Warna Kapsul Ternyata Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat

Advertisement

Kepatuhan minum obat adalah hal penting untuk menjamin efektivitas terapi farmakologis. Obat yang tidak diminum menurut waktunya berisiko meningkatkan efek samping atau malah membuat obatnya menjadi tidak efektif. Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Neurology ini, tim peneliti melakukan eksperimen menggunakan beberapa warna kapsul pada hampir 100 pasien epilepsi. Penelitian cross-sectional ini dilakukan di klinik rawat jalan saraf. Pasien diminta untuk memilih beberapa warna kapsul, yaitu putih, kuning, abu-abu, karamel, dan marun untuk diberi predikat “tidak dapat diterima” dan juga untuk mengurutkan warna kapsul dari “sangat disukai” hingga “sangat tidak disukai”.

Analisis regresi multivariat digunakan untuk menentukan pengaruh jenis kelamin, ras, umur, dan jumlah obat yang diterima pasien terhadap preferensi warna kapsul. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna secara statistika antara warna putih dan kuning terhadap warna abu-abu, karamel, dan marun. Yang menarik adalah warna marun, yang menjadi warna paling disukai sebagian pasien namun juga menjadi warna yang paling tidak disukai bagi pasien lainnya.

Berdasarkan analisis multivariat, ras menjadi satu-satunya faktor yang menjelaskan perbedaan kesukaan warna marun ini. Pasien yang berasal dari ras Afrika-Amerika mayoritas sangat tidak menyukai warna marun. Ditemukan pula perbedaan secara statistik terhadap usia pasien dan warna abu-abu. Semakin bertambah umurnya, kesukaan terhadap warna abu-abu menurun. Namun karena jumlah sampel pasien yang sedikit, maka hasil ini harus diinterpretasikan dengan bijaksana.

Sebenarnya beberapa penelitian serupa juga telah dilakukan oleh peneliti lainnya. Hasilnya mengisyaratkan bahwa warna kapsul yang lebih “cool” atau kalem berkaitan dengan efek menenangkan, sedangkan warna yang lebih cerah mengisyaratkan efek stimulan atau perangsangan. Dengan mengubah warna kapsul sesuai dengan jenis pasien, diharapkan kepatuhan minum obat pasien akan meningkat pula.

Referensi:
Stack, Christopher. Polli, James. Ting, Tricia. 2016. Pill collor preference considerations in clinical trial design. Neurology vol. 86 no. 16 Supplement P2.037

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *