Ternyata Ini Penyebab Flu Bertambah Parah

Advertisement

Sulit untuk memprediksi siapa yang akan mendapatkan flu setiap tahunnya. Tingkat keparahan flu juga berbeda bagi setiap orang. Sementara beberapa orang mungkin hanya menghabiskan beberapa hari di tempat tidur dengan nyeri dan hidung tersumbat, orang lain mungkin menjadi begitu sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit.

Sampai sekarang, para peneliti hanya dapat menduga bahwa perbedaan respon imun pasien flu yang menyebabkan perbedaan keparahan tersebut. Jean-Laurent Casanova, seorang profesor di Rockefeller University dan penyelidik di Howard Hughes Medical Institute, telah telah memilah-milah kasus anak-anak dengan flu parah. Dia dan rekan-rekannya menduga ada satu gen yang menghambat sistem kekebalan tubuh melawan flu.

Pada penelitian ini, Casanova terfokus pada seorang gadis, yang berumur dua tahun ketika dia terinfeksi dengan H1N1, yang lebih dikenal sebagai flu babi. Gadis ini, yang diberi inisial P, dirawat di unit perawatan intensif anak. Gadis itu tidak memiliki faktor risiko yang mungkin mempengaruhi influenza parahnya. “Anak ini tidak memiliki penyakit paru atau masalah bawaan”.

Casanova dan kolaboratornya meneliti genom gadis itu dan mencari gen-gen yang mungkin mencegah respon imunnya untuk melawan flu. Akhirnya tim peneliti menunjuk satu gen yang mencegah P membuat interferon, yakni protein yang membantu menghentikan serangan dan penyebaran flu di dalam tubuh.

Interferon adalah bagian penting dari respons imun karena merupakan pertahanan awal bagi tubuh untuk melawan penyakit. “Interferon dibuat oleh semua sel dalam tubuh,” kata Casanova. “Beberapa sel memiliki interferon lemah, dan dalam hal ini bahkan virus flu musiman dapat berbahaya.” Selain penentuan gen, Casanova dan rekan-rekannya menggunakan sel induk untuk menumbuhkan sel paru-paru gadis ini secara in vitro. Ternyata sel paru-parunya tidak bisa menghasilkan interferon.

Penelitian ini membantu menjelaskan bahwa variasi genetik mengubah cara melawan flu bagi masing-masing orang. “Respon terhadap influenza mengalami gangguan secara genetik,” kata Casanova.

Casanova juga tertarik dengan terapi interferon, yang kadang-kadang digunakan untuk membantu melawan multiple sclerosis, hepatitis C dan beberapa bentuk kanker. “Interferon dapat disamakan seperti insulin untuk diabetes; Anda memberikan insulin kepada orang yang mengalami diabetes, dan hasilnya bagus,”ia menjelaskan. Pasien mungkin akan mampu menerima suntikan interferon untuk memacu respon imun yang lebih cepat, dia berspekulasi, daripada menunggu serangan dari sel-sel B dan T.

Akhirnya gadis ini, P, pulih dari penyakit flunya. Empat tahun kemudian, dia mendapat vaksin flu setiap tahun dan tetap sehat. “Jika gadis ini terkena influenza setelah vaksinasi, dia dapat melawan virusnya,” kata Casanova. Hal ini karena bagian lain dari sistem kekebalan tubuh P masih efektif mempertahankan tubuh dari infeksi. Vaksin flu, misalnya, menggunakan bentuk inaktif influenza untuk membangun respon sel T dan sel B untuk melawan flu. “Dia membuat sel T dan sel-sel B aktif terhadap virus, sehingga saat virus datang segera dibunuh oleh sel-sel meskipun interferon tidak bekerja,” kata Casanova.

Jadi oleh karena tidak masuk akal untuk mengurutkan genom anak-anak guna mencari varian yang mempengaruhi sistem kekebalan tubuh, Casanova sangat menyarankan bahwa setiap anak menerima vaksin flu. “Jika pasien ini telah divaksinasi sebelum infeksi pertamanya, dia mungkin tetap sehat,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *