Tatalaksana Hipertensi pada Kehamilan

Advertisement

Hipertensi pada kehamilan merupakan masalah yang sering terjadi, yakni 2-3% dari seluruh kehamilan. Kelainan tekanan darah pada kehamilan dibagi menjadi 4 kategori menurut National High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregancy, yaitu: hipertensi kronik, preeklamsia-eklamsia, preeklamsia yang ditumpangkan pada hipertensi kronik, serta hipertensi gestasional. Pada tahun 2008, the Society of Obstetricians and Gynecologist of Canada (SOGC) menyederhanakan kategori hipertensi pada kehamilan tersebut menjadi 2 kelompok, yakni hipertensi yang telah ada dan hipertensi gestasional, dengan tambahan preeklamsia yang tergantung hasil diagnostiknya.

Ibu hamil yang mengalami hipertensi dan terus memburuk biasanya dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur dan membatasi aktivitas, walaupun belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa hal ini dapat mengurangi morbiditas atau mortalitas ibu hamil dan janin. Hipertensi yang terjadi pada kehamilan hendaknya diobservasi dengan cermat, baik di rumah sakit atau di rumah. 

Tatalaksana hipertensi pada kehamilan dilakukan dengan terapi farmakologi bila terdapat tekanan darah sistolik lebih dari 160 mmHg dan tekanan darah diastoliknya melebihi 100-105 mmHg. Tujuan terapi farmakologi adalah untuk menurunkan tekanan darah sistolik menjadi di bawah 160 mmHg dan diastolik di bawah 100 mmHg. Akan tetapi bila sudah ada kerusakan organ akibat hipertensi sebelumnya, maka terapi farmakologi dimulai bila tekanan darahnya melebihi 139/89 mmHg dengan target penurunan tekanan darah agar bawah 140/90 mmHg.

Pedoman yang berbasis bukti (evidence-based) dari American Association of Clinical Endocrinologists menyarankan penggunaan metildopa atau nifedipin long acting sebagai obat antihipertensi pada kehamilan. Walaupun aman, namun metildopa memiliki khasiat antihipertensi yang sedang dengan onset kerja yang lama. Labetalol memiliki onset kerja lebih cepat daripada metildopa, serta direkomendasikan sebagai terapi lini pertama. Selain labetalol, golongan obat antihipertensi lainnya dari kelompok beta blocker seperti metoprolol dan nadolol juga dapat digunakan untuk tatalaksana hipertensi pada kehamilan yang disertai dengan penyakit jantung. Magnesium sulfat dapat ditambahkan ke dalam regimen terapi pada wanita hamil dengan preeklamsia bila terdapat risiko tinggi terjadinya bangkitan.

Obat antihipertensi yang harus dihindari pada kehamilan adalah obat antihipertensi golongan ACE inhibitor (misalnya captopril, lisinopril). Hal ini disebabkan karena terdapatnya risiko kerusakan atau kematian janin bila digunakan pada trimester kedua atau ketiga. Selain itu, penggunaan ACE inhibitor pada trimester pertama akan meningkatkan risiko malformasi sistem saraf pusat dan kardiovaskuler pada janin.

Golongan obat antihipertensi angiotensin receptor blocker (ARB), seperti valsartan, irbesartan, candesartan, dan losartan juga tidak disarankan untuk digunakan pada kehamilan karena mekanisme kerjanya hampir sama dengan ACE inhibitor. Sementara itu obat antihipertensi golongan diuretika seperti HCT tidak menyebabkan malformasi janin akan tetapi dapat menghalangi ekspansi volume fisiologis normal sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan pada kehamilan.

Referensi:

Visintin C, Mugglestone MA, Almerie MQ, Nherera LM, James D, Walkinshaw S. Management of hypertensive disorders during pregnancy: summary of NICE guidance. BMJ. Aug 25 2010;341.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *