Sevelamer, Obat Pengikat Fosfat pada Penderita Gagal Ginjal

Advertisement

Sevelamer, mungkin nama ini masih belum cukup terkenal di masyarakat awam, namun bagi penderita gagal ginjal sevelamer cukup familiar. Obat ini digunakan untuk mengikat kelebihan fosfat dalam darah. Di Indonesia, sevelamer dipasarkan dengan merek dagang Renvela. Pasien penderita gagal ginjal kronis tahap 4 dan 5 yang juga rutin menjalani hemodialisis merupakan jenis pasien yang pada umumnya menggunakan sevelamer. Efektivitas sevelamer dalam menangani hiperfosfatemia setara dengan kalsium asetat, namun tanpa risiko hiperkalsemia.

Obat antihiperfosfatemia ini tersusun atas senyawa polialilamin yang berikatan dengan epiklorohidrin. Gugus amina pada sevelamer akan terprotonisasi secara sebagian di usus halus dan berinteraksi dengan ion fosfat melalui ikatan ion dan hidrogen. Mekanisme kerja tersebut menjadikan sevelamer menjadi pengikat fosfat yang efektif. Selain itu, sevelamer juga dapat menurunkan kadar asam urat dalam darah, namun sampai saat ini efek penurunan asam urat tersebut belum dikaji lebih lanjut sehingga efektivitasnya masih belum jelas.

Sevelamer juga dapat menghambat advanced glycation end products (AGEs) di usus sehingga mencegahnya untuk diserap menuju aliran darah. AGEs merupakan salah satu faktor yang berperan dalam stres oksidatif yang dapat merusak sel tubuh. Terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa sevelamer mampu menurunkan kadar AGEs di dalam darah, mencegah stres oksidatif, dan menurunkan penanda inflamasi atau peradangan di tubuh.

Sevelamer jangan digunakan pada pasien yang mengalami hipofosfatemia, atau kadar fosfat yang rendah, karena akan memperburuk kondisi pasien yang dapat berujung fatal. Selain itu obat ini juga jangan digunakan pada penderita obstruksi usus. Efek samping sevelamer meliputi hipotensi, hipertensi, mual, muntah, dispepsia, diare, flatulens, dan konstipasi.

Referensi:

Garg JP, Chasan-Taber S, Blair A, et al. (January 2005). “Effects of sevelamer and calcium-based phosphate binders on uric acid concentrations in patients undergoing hemodialysis: a randomized clinical trial”. Arthritis and rheumatism. 52 (1): 290–5.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *