Sering Sakit Kepala? Waspadai Hipotiroidisme Akibat Sakit Kepala

Advertisement

Orang yang mengalami gangguan sakit kepala memiliki peluang 21% lebih tinggi untuk terkena hipotiroidisme, bahkan risikonya bertambah tinggi, yakni 41% bagi penderita migrain. Hal ini dinyatakan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Universitas Cincinnati, Ohio, Amerika Serikat. Selama ini faktor risiko yang paling dikenal bagi penyakit hipotiroidisme adalah jenis kelamin wanita dan umur, namun kini nampaknya kejadian sakit kepala berulang dapat menjadi faktor risiko lainnya. Bila memang ada pasien yang sering menderita sakit kepala, ada baiknya dokter melakukan skrining untuk pemeriksaan hipotiroidisme.

Penelitian ini melibatkan 8412 peserta berusia dewasa yang tergabung dalam Fernald Medical Monitoring Program (FMMP), yakni sebuah program surveilans medis. Para peserta penelitian mendapatkan pemeriksaan fisik setiap 2-3 tahun sekali dan mereka juga diminta untuk mengisi kuisioner tertulis setiap tahunnya. Durasi rata-rata peserta dalam mengikuti penelitian ini adalah 12,6 tahun. Guna menilai sakit kepala, tim peneliti menanyakan kepada para peserta mengenai ada/tidaknya “sakit kepala berulang” pada saat pemeriksaan awal FMMP. Gangguan sakit kepala ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter, laporan mandiri, atau penggunaan obat-obatan pereda sakit kepala.

Fungsi kelenjar tiroid juga diperiksa selama semua tahap pemeriksaan. Tim peneliti kemudian melakukan penyesuaian terhadap umur, jenis kelamin, penggunaan obat-obatan, indeks masa tubuh, dan obat-obatan tertentu yang dapat menyebabkan hipotiroid misalnya lithium dan interferon. Para peserta dibagi menjadi 2 kelompok, yakni kelompok sakit kepala (ya/tidak) dan kelompok migrain (ya/tidak).

Ditemukan bahwa kejadian hipotiroidisme terjadi pada 8,2% pasien penderita sakit kepala dan pada 6,2% peserta yang bukan penderita sakit kepala. Setelah dilakukan adjusment terhadap kovariat, diperoleh nilai hazard ratio (HR) untuk perkembangan hipotiroidisme sebesar 1.210 (95% CI, 1.001-1.462) pada pasien penderita sakit kepala.

Pada kelompok kedua, kejadian hipotiroidisme terjadi pada 10,8% peserta penderita migrain dan 6,2% peserta yang tidak menderita migrain. Nilai HR untuk kejadian hipotiroidisme pada peserta penderita migrain dibandingkan dengan peserta yang bukan penderita migrain adalah 1.411 (95% CI, 1.009-1.973).

Mekanisme yang melatarbelakangi kejadian ini adalah bahwa sakit kepala berulang akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga membuat sistem kekebalan tubuh menyerang kelenjar tiroid. Kemungkinan mekanisme lain adalah gangguan sakit kepala, khususnya migrain, mengubah sistem saraf otonom yang penting perannya untuk mengubah hormon tiroid menjadi bentuk lebih aktifnya. Mekanisme lain yang juga diusulkan adalah penggunaan obat-obatan antikonvulsan yang meningkatkan risiko hipotiroidisme.

Referensi:

Martin, A.T., Pinney, S.M., Xie, C., Herrick, R.L., Bai, Y., Buckholz, J., dkk., 2016. Headache Disorders May Be a Risk Factor for the Development of New Onset Hypothyroidism. Headache: The Journal of Head and Face Pain, n/a-n/a.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *