Sel Imunitas Tubuh Memperbaiki Otak Setelah Mengalami Stroke Pendarahan

Advertisement

Sel imunitas atau kekebalan tubuh, yang disebut neutrofil, selain berperan sebagai pembasmi kuman patogen yang menyerang tubuh, juga punya sifat untuk memperbaiki jaringan yang rusak. Melalui penelitian pada tikus, tim ilmuwan mengetahui bahwa ada neutrofil yang membantu proses penyembuhan otak setelah terkena stroke pendarahan. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Communications ini menyatakan bahwa terdapat dua jenis neutrofil yang berperan melindungi otak terhadap kerusakan terkait stroke dan dapat digunakan sebagai terapi untuk pendarahan intraserebral.

Pendarahan intraserebral terjadi ketika pembuluh darah di otak pecah sehingga darah merembes ke otak. Tekanan darah tinggi kronik merupakan faktor risiko utama stroke jenis ini. Tahap awal kerusakan otak nampaknya disebabkan oleh rembesan darah di otak. Seiiring waktu, kerusakan lebih lanjut dapat disebabkan oleh penumpukan produk darah yang beracun dan pembengkakan.

Neutrofil merupakan sel imunitas tubuh yang pertamakali menanggapi pendarahan otak. Neutrofil dapat merusak atau malah menyembuhkan sel otak. Sejenis protein yang dinamakan interleukin-27 (IL-27) yang berperan untuk mengendalikan sel kekebalan tubuh, ternyata dapat mengubah peran neutrofil dari merusak otak menjadi menyembuhkan otak.

Pemberian injeksi IL-27 setelah terjadi pendarahan otak ternyata dapat membantu pemulihan kondisi pada tikus. Beberapa hari setelah terserang stroke, tikus yang diberi injeksi IL-27 menunjukkan perbaikan mobilitas termasuk berjalan, selain itu lebih sedikit kerusakan yang terjadi pada otak tikus. Hal ini ditunjukkan dengan lebih sedikitnya pembengkakan di sekitar area pendarahan, juga terdapat lebih sedikit kadar besi dan hemoglobin. Keduanya toksik bagi otak bila konsentrasinya tinggi.

Selain neutrofil, senyawa lain yang berperan dalam penyembuhan otak adalah laktoferin. Tikus yang diberi senyawa protein ini 30 menit setelah terserang stroke pendarahan akan pulih lebih cepat dan menunjukkan lebih sedikit kerusakan pada otak dibandingkan tikus yang diberi plasebo. Pemberian laktoferin dalam jangka waktu 24 jam setelah stroke juga efektif mengurangi kerusakan otak. Diharapkan suatu saat nanti laktoferin dapat digunakan sebagai salah satu terapi stroke pendarahan.

Referensi:

Zhao, X., Ting, S.-M., Liu, C.-H., Sun, G., Kruzel, M., Roy-O’Reilly, M., dkk., 2017. Neutrophil polarization by IL-27 as a therapeutic target for intracerebral hemorrhage. Nature Communications, 8: 602.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *