Resistensi Antibiotika Semakin Mengkhawatirkan

Advertisement

Sebuah laporan baru yang dibuat oleh World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kebutuhan antibiotika baru kian mendesak. Hal ini berdasarkan fakta bahwa terbatasnya pilihan terapi untuk penyakit infeksi akibat dari resistensi kuman terhadap antibiotika. Resistensi antibiotika muncul ketika kuman patogen dapat menghindar dari terapi antibiotika. Hal ini akan mengurangi efektivitas pengobatan.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sekitar 2 juta orang di Amerika Serikat terinfeksi bakteri yang resisten terhadap obat setiap tahunnya, dan menyebabkan kematian 23.000 orang. Infeksi bakteri Clostridium difficile yang resisten terhadap antibiotika termasuk ke dalam infeksi yang paling mematikan di Amerika Serikat, bertanggungjawab terhadap 250.000 kasus infeksi dan kematian 14.000 orang tiap tahunnya. Di seluruh dunia, tuberculosis yang kebal obat adalah salah satu ancaman nyata, menyebabkan kematian 480.000 orang per tahun.

Pada tahun 2015, WHO telah mencanangkan strategi yang dinamakan Global Action Plan on Antimicrobial Resistance, yang bertujuan untuk memastikan keberhasilan terapi dan pencegahan penyakit infeksi menggunakan obat-obatan yang aman dan efektif, bermutu tinggi, digunakan dengan bijak, dan dapat diakses oleh siapa pun yang memerlukan. WHO juga telah mengeluarkan daftar bakteri yang telah resisten terhadap antibiotika dan menimbulkan ancaman serius bagi kesehatan dunia, dengan tujuan untuk membantu perkembangan antibiotika baru.

WHO mencatat bahwa dari 55 kelas obat baru, termasuk 33 antibiotika, hanya 8 yang menurut WHO masuk kriteria “terapi inovatif” yang dapat mengurangi resistensi obat. Kriteria ini mencakup mekanisme baru kerja obat dan kurangnya resistensi silang terhadap antibiotika yang sudah ada. Lebih lanjut lagi WHO menemukan bahwa hanya sedikit antibiotika baru yang dikembangkan untuk tuberculosis yang telah resisten obat, yang merupakan salah satu ancaman terbesar bagi kesehatan publik. Namun WHO juga menyimpulkan bahwa menciptakan antibiotika baru tidaklah cukup untuk melawan resistensi kuman. Diperlukan juga motivasi untuk menggunakan antibiotika secara bijak, baik antibiotika yang sudah ada maupun yang baru.

Referensi:

http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/258965/1/WHO-EMP-IAU-2017.11 eng.pdf?ua=1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *