Rekam Medis Elektronik Meningkatkan Keselamatan Pasien Pengguna Warfarin

Advertisement

Warfarin adalah obat pengencer darah yang paling sering digunakan. Obat ini bermanfaat untuk mencegah penggumpalan darah yang membahayakan di dalam tubuh. Namun penggunaan Warfarin memerlukan monitoring rutin, pendosisan harian, dan dapat menyebabkan efek negatif bila digunakan bersamaan dengan vitamin K. Vitamin ini umum terdapat pada sayuran. Sebuah penelitian baru dari Universitas Missouri menemukan bahwa penerapan rekam medis elektronik dapat meningkatkan asuhan yang diperoleh pasien setelah pasien meninggalkan rumah sakit serta menghilangkan kebingungan di antara tenaga kesehatan.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa efek samping Warfarin merupakan salah satu penyebab masuk rumah sakit pada pasien berumur lebih dari 65 tahun di Amerika Serikat. Angkanya cukup besar, yakni 33%. Biasanya dokter akan menulis rencana terapi warfarin di kertas, akan tetapi hal ini ternyata dapat menyulitkan profesional kesehatan lain (apoteker, perawat, bahkan dokter lain) untuk memperoleh informasinya di kemudian hari. Tulisan tangan juga berpotensi menimbulkan kerancuan.

Penelitian yang juga didukung oleh Joint Commission ini menggunakan rekam medis elektronik untuk memasukkan data pasien secara komprehensif. Informasi ini dapat diakses oleh pasien dan profesional kesehatan pemberi asuhan. Rekam medis elektronik ini juga dapat mengkoordinasikan komunikasi dengan depo farmasi guna update dosis obat. Sebelum menggunakan rekam medis elektronik diperoleh data awal bahwa hanya 42% pasien pengguna warfarin yang rencana pemulangannya ditulis lengkap, setelah dilakukan intervensi angka ini naik menjadi 78%. Dari 28 orang dokter dan apoteker yang disurvei, 61% mengatakan bahwa peresepan warfarin menjadi gampang dan mudah diakses. Penelitian ini menunjukkan bahwa rekam medis elektronik penting perannya dalam mendukung keselamatan pasien.

Referensi:

Margaret Day, Molly Malone, Alyson Burkeybile, Kristen Deane. Improving Transitions of Care for Hospitalized Patients on Warfarin. The Joint Commission Journal on Quality and Patient Safety, 2016; 42 (9): 425 DOI: 10.1016/S1553-7250(16)42084-2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *