Penggunaan Aspirin untuk Fibrilasi Atrial Perlu Dievaluasi Kembali

Advertisement

Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa aspirin tidak seefektif seperti yang selama ini dipercayai untuk digunakan pada pasien fibrilasi atrial. Pada pasien tertentu risiko penggunaan aspirin malah melebihi manfaat yang diterima pasien, misalnya pada ablasi kateter. Fibrilasi atrial merupakan masalah jantung dimana detak jantung tidak normal. Kondisi ini mempengaruhi 2,7 juta orang di Amerika Serikat. Bila tidak ditangani, fibrilasi atrial dapat mengarah menjadi penyakit kardiovaskuler seperti stroke, pembekuan darah, dan gagal jantung.

Terapi saat ini yang direkomendasikan untuk terapi pasien fibrilasi atrial adalah dengan menggunakan obat antikoagulan atau pengencer darah. Beberapa pasien penderita fibrilasi atrial juga memiliki ablasi kateter, yakni prosedur medis yang menggunakan energi guna merusak sebagian kecil jaringan jantung sehingga akan mencegah sinyal listrik abnormal menjalar di jantung. Pasien yang menjalani ablasi kateter berisiko terkena pendarahan atau kerusakan pembuluh darah, namun risiko pasien terkena stroke menjadi lebih rendah dibandingkan pasien yang tidak menjalani prosedur ini. Penelitian terbaru ini memeriksa efek jangka panjang penggunaan aspirin pada pasien penderita fibrilasi atrial yang juga menjalani ablasi.

Aspirin selama ini dianggap cukup aman untuk digunakan sebagai pencegah stroke pada pasien penderita fibrilasi atrial risiko rendah paska ablasi kateter. Umumnya pasien fibrilasi atrial yang tergolong kategori risiko rendah diterapi menggunakan aspirin, walaupun tanpa data penunjang yang signifikan. Faktanya, menurut laporan American College of Cardiologists lebih dari 1 dari 3 pasien fibrilasi atrial yang memiliki risiko sedang hingga tinggi untuk terkena stroke diterapi dengan aspirin, bukannya antikoagulan oral, meskipun pedoman klinis menyarankan penggunaan antikoagulan.

Hasil penelitian ini dipresentasikan pada seminar Heart Rhythm 2017, yang diadakan di Chicago baru-baru ini. Penelitian ini mengamati 4.124 pasien penderita fibrilasi atrial selama 3 tahun. Subyek penelitian merupakan pasien yang memiliki risiko rendah stroke dan telah menjalani prosedur ablasi kateter. Tim peneliti menemukan bahwa pasien yang diberi aspirin lebih banyak yang terkena pendarahan saluran pencernaan dan saluran kemih dibandingkan pasien yang menggunakan obat antikoagulan, misalnya warfarin, atau dibandingkan dengan pasien yang tidak mendapat terapi apa pun. Sebagai tambahan, penelitian ini menekankan kurangnya manfaat aspirin untuk diberikan pada pasien fibrilasi atrial yang telah menjalani ablasi, terlebih bila risiko terserang stroke pasien ini sudah rendah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *