Penemuan Antibodi Ini Membuka Peluang Terciptanya Vaksin HIV

Advertisement

Segera setelah virus HIV diidentifikasi pada tahun 1984, para ilmuwan berupaya untuk membuat vaksinnya. Namun hal ini sulit, karena HIV merupakan virus kompleks dan mudah berubah-ubah. Penemuan terbaru berasal dari tim peneliti National Institute of Health (NIH) di Amerika Serikat. Tim peneliti ini telah menemukan sejenis antibodi yang berikatan dengan virus HIV dan menghentikan virus untuk menginfeksi sel. Antibodi ini juga mentargetkan area pada virus yang sebelumnya dianggap kebal.

Pada penelitian yang diterbitkan di jurnal Science ini, tim peneliti memeriksa sampel darah penderita HIV. Sejenis antibodi ditemukan di darah tersebut. Antibodi merupakan protein yang dibuat oleh sel kekebalan tubuh. Setelah dicobakan secara in vitro, antibodi tersebut mampu menghambat penyebaran infeksi sekitar 208 variasi HIV. Walaupun antibodi yang dihasilkan di tubuh setelah infeksi HIV dapat menghentikan penyebaran infeksi ketika dicobakan di laboratorium, namun antibodi ini tidak selalu aktif setelah infeksi di dalam tubuh.

Antibodi ini berikatan dengan area di virus HIV yang dinamakan peptida fusi. Bagian virus HIV ini membantu membran HIV untuk menyatu dengan elemen yang sama dari sel. Proses penyatuan ini diperlukan virus untuk menginfeksi sel dengan materi genetiknya. Peptida fusi merupakan bagian dari struktur virus yang lebih besar yang dinamakan envelope glycoprotein. Sebenarnya para imuwan telah mengetahui adanya peptida fusi ini sejak lama, namun mereka tidak menyangka bahwa protein ini terlibat lebih detil dalam infeksi sel.

Tim peneliti mengibaratkan peptida fusi ini seperti mainan robot Transformer yang dapat mengubah bentuknya. Diduga pada bentuk awalnya, peptida fusi ini tersembunyi karena merupakan materi yang hidrofobik, atau larut lemak. Area hidrofobik virus telah diketahui menghindari kontak dengan lingkungan sekelilingnya dengan cara menutup. Antibodi hanya dapat menyerang area virus yang mampu dicapai. Tim peneliti menemukan bahwa peptida fusi ini tidak terlalu tertutup sebagaimana diduga sebelumnya. Terdapat 8 asam amino yang tidak sepenuhnya tertutup dan dapat dikenali oleh antibodi.

Tim peneliti tidak mengetahui secara pasti mekanisme antibodi baru ini menghambat infeksi HIV, namun diduga antibodi ini mencegah envelope glycoprotein untuk berubah bentuk. Yang menjadikan penelitian ini menjanjikan adalah bahwa area yang tidak sepenuhnya terbuka ini nampaknya sama pada sebagian besar variasi virus HIV. Sebelum antibodi ini diproduksi menjadi vaksin yang efektif, diperlukan usaha yang cukup keras, termasuk tes pada binatang uji yang diikuti dengan uji klinik pada manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *