Pegagan: Dimasak Bisa, Dibuat Obat OK!

Advertisement

Pegagan atau antanan (Centella asiatica) adalah herba dari famili Apiaceae. Tanaman kecil berdaun mirip bentuk ginjal ini banyak dijumpai di Indonesia, Sri Lanka, Malaysia, Iran, kawasan Melanesia, Australia bagian utara, serta beberapa lokasi di Asia. Di kawasan tersebut, pegagan dikenal dengan nama lain asiatic pennywort, luei gong gen, gotu kola, dan takip-kohol.

Tanaman ini tumbuh di sepanjang parit, atau di tempat basah yang terlindung dari sinar matahari. Di Sri Lanka, dikenal suatu olahan dari pegagan, dinamakan “mallung”, dimana pegagan disajikan bersama dengan nasi dan kari. Bahan lain pada “mallung” selain irisan lembut pegagan adalah kelapa parut, irisan cabai hijau, 1/4 sendok teh bubuk cabai, 1/8 sendok teh bubuk kunyit, dan air jeruk lemon. Masakan lainnya adalah “Kola Kenda”, yaitu sejenis bubur beras merah dengan santan kelapa dan perasan air pegagan.

Selain untuk dimakan, pegagan memiliki reputasi yang baik sebagai tanaman obat, ia dicantumkan dalam pengobatan tradisional Cina dan India (ayurveda). Pegagan memiliki efek sedang untuk anti bakteri, anti virus, dan anti inflamasi (radang). Selain itu ia juga merupakan tonik (penguat) untuk otak, dan perangsang sirkulasi dalam tubuh. Jika dimakan mentah, pegagan dipercaya dapat membuat awet muda. Air perasan pegagan juga dipercaya mampu mengatasi hipertensi, sedangkan daun sisa perasan tersebut dapat digunakan sebagai tapal untuk mengobati luka terbuka. Beberapa penelitian melaporkan bahwa tapal daun pegagan memang membantu penyembuhan luka karena pegagan merangsang pembentukan kolagen tipe I, sekaligus meredakan radang akibat luka.

Di dalam ayurveda, disebutkan bahwa pegagan (gotu kola) adalah penguat otak yang mujarab. Tanaman ini mendukung dan meningkatkan daya ingat. Disebutkan pula bahwa pegagan memiliki sifat “vayasthapana”, artinya pencegah penuaan. Melihat banyak sekali manfaat yang dapat diambil dari pegagan, maka tidak ada salahnya apabila kita mulai menanam herba ini di lingkungan pekarangan kita untuk dapat kita gunakan sewaktu-waktu.

Referensi

Pharmacological Review on Centella asiatica: A Potential Herbal Cure-all.”. Indian J Pharm Sci: 546–56. September 2010.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *