Panduan Praktek Farmasi Klinik untuk Pemula

Advertisement

Farmasi klinik adalah cabang ilmu farmasi yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan praktek mengenai penggunaan obat yang rasional. Cabang ilmu farmasi klinik di Indonesia maih tergolong baru, bahkan di dunia pun umurnya belum ada seabad. Farmasi klinik pertama kali dirintis di Universitas Michigan pada tahun 1960. Praktek awal farmasi klinik dirintis oleh David Burkholder, Paul Parker, dan Charles Walton dari Universitas Kentucky pada akhir tahun 1960.

Praktek farmasi klinik di Indonesia baru dijalankan pada sekitar tahun 2000an di beberapa rumah sakit besar, namun belum terkoordinasi baik. Minat akan farmasi klinik semakin besar seiiring kebutuhan rumah sakit terhadap keselamatan pasien (patient safety). Hal ini direspon oleh beberapa universitas untuk membuka program studi magister farmasi klinik, yang mahasiswanya terus bertambah setiap tahunnya. Akreditasi rumah sakit, baik lokal (KARS) maupun internasional (JCI) memberi peluang bagi farmasi klinik untuk berkembang. Saat ini bahkan di rumah sakit dengan kapasitas tempat tidur yang terbatas pun, praktek farmasi klinik menjadi suatu kebutuhan, bukan hanya monopoli rumah sakit besar saja.

Tentunya hal ini perlu diantisipasi dengan baik, agar tidak menjadi bumerang bagi ilmu farmasi klinik itu sendiri. Potensi peluang yang ada sangatlah besar, karena saat ini kebutuhan akan apoteker yang berpraktek farmasi klinik menjadi kewajiban di masing-masing rumah sakit, baik besar maupun kecil. Namun hal ini juga disertai dengan tantangan berupa fakta bahwa sebagian besar apoteker yang berpraktek farmasi klinik tersebut masih baru, pemula, dan belum memiliki pengalaman klinis yang cukup mumpuni untuk menjadi rujukan bagi tenaga kesehatan lainnya (dokter dan perawat) mengenai obat-obatan. Terkadang para apoteker ini merasa tidak percaya diri bila harus memberikan masukan kepada tenaga kesehatan lainnya, ataupun ketika memberikan edukasi terkait obat-obatan kepada pasien.

Terdapat sembilan item ruang lingkup praktek farmasi klinik meliputi monitoring terapi obat, monitoring efek samping obat, visite pasien, pencegahan medication error, pemberian informasi obat dan edukasi, rekomendasi penggunaan obat, dokumentasi dan pelaporan data, pemantauan kadar obat dalam darah, serta handling sitostatika. Di Indonesia tidak dilakukan pemantauan kadar obat dalam darah, mengingat biaya yang dibebankan kepada pasien akan bertambah dan pelayanan ini juga belum ditanggung oleh asuransi manapun. Handling sitostatika baru dilaksanakan oleh beberapa rumah sakit besar dan yang sudah memiliki alat handling khusus, misalnya Biological Safety Cabinet (BSC) guna menjamin keamanan produk dan tenaga farmasi pelaksananya. Hal ini menyebabkan dua item ruang lingkup praktek farmasi klinik tersebut tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan rumah sakit, sedangkan tujuh item sisanya dapat dikerjakan tanpa prasyarat.

Sebagai pemula, bila akan bertugas di bangsal yang baru yang sebelumnya belum pernah ada praktek farmasi klinik, umumnya seorang apoteker akan merasa kurang percaya diri. Oleh karena itu diperlukan strategi khusus agar praktek farmasi klinik dapat berjalan dengan profesional dan menyenangkan. Pada beberapa minggu awal di bangsal yang baru, ada baiknya seorang apoteker farmasi klinik mengamati pola kerja rekan tenaga kesehatan lainnya, tidak perlu melakukan langkah agresif. Periode minggu awal ini merupakan fase konsolidasi untuk menstabilkan pondasi bagi praktek farmasi klinik selanjutnya. Pada minggu awal ini dapat dilakukan pengenalan lingkungan bangsal, pola penyakit, dan pola kerja rekan tenaga kesehatan lain agar apoteker farmasi klinik dapat menyelaraskan irama kerjanya dengan rekan tenaga kesehatan lainnya.

Pada minggu berikutnya, setelah mulai merasa stabil dan telah menyesuaikan diri dengan lingkungan di bangsal, barulah apoteker farmasi klinik dapat melangkah lebih jauh lagi dengan cara menunjukkan segi keilmuan farmasi kliniknya. Bagikan jurnal-jurnal terbaru yang berkaitan dengan tata laksana farmakologis penyakit yang sering dijumpai di bangsal. Diskusikan dengan dokter maupun perawat mengenai permasalahan yang sering dijumpai di bangsal, baik klinis maupun administratif. Jadilah problem solver atau pemecah masalah. Ikut aktiflah di acara yang diadakan di bangsal tersebut, mungkin berupa simposium atau acara lain yang bahkan tidak ada hubungannya dengan farmasi klinik. Hal ini merupakan langkah strategi untuk mendekatkan diri secara lebih personal dengan rekan tenaga kesehatan lainnya di bangsal. Hasilnya akan terlihat bahwa rekan tenaga kesehatan lain bisa menerima keberadaan apoteker farmasi klinik tersebut.

Setelah keberadaannya semakin mantap di bangsal, barulah apoteker farmasi klinik dapat mempraktekan ilmunya dengan optimal. Lakukan monitoring terapi obat dengan cara asessment pasien, pengkajian resep, rekomendasi penggunaan obat, serta pendokumentasian. Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam monitoring terapi obat adalah apoteker farmasi klinik harus memahami perkembangan diagnostik, jangan memberi rekomendasi yang tidak perlu. Pemahaman mengenai penggunaan off label obat adalah sangat penting, jangan memberi rekomendasi yang keliru. Pahami penatalaksanaan terkini penyakit yang sering dijumpai di bangsal.

Visite pasien hendaknya dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan waktu istirahat pasien. Sebaiknya tidak membangunkan pasien yang sedang tidur hanya untuk visite, kecuali ada hal darurat/mendesak yang perlu konfirmasi kepada pasien. Apoteker farmasi klinik hendaknya menggunakan bahasa yang komunikatif ketika visite dan menunjukkan empati kepada pasien. Visite juga harus dilaksanakan secara singkat dan efisien. Gunakan masker bila akan visite pasien dengan infeksi yang disebarkan melalui udara, misalnya TBC dan pneumonia.

Monitoring efek samping obat tidak dapat dipisahkan dengan monitoring terapi obat. Hal ini disebabkan karena efek yang diharapkan dari suatu obat dan efek sampingnya dapat dipertukarkan sesuai kebutuhan, sehingga keduanya merupakan satu paket utuh yang harus diterima pasien sebagai konsekuensi dari pengobatan. Seorang apoteker farmasi klinik hendaknya memahami bahwa data objektif (hasil laboratorium dan pemeriksaan lainnya) lebih disukai dibandingkan data subjektif (keluhan pasien). Bila didapat data subjektif (keluhan pasien) yang dicurigai sebagai efek samping, hendaknya hal ini dikonfirmasikan dahulu kepada dokter sebelum memberi rekomendasi. Untuk menilai derajat efek samping obat, Skor Naranjo dapat digunakan dan hasilnya cukup dapat dipertanggungjawabkan.

Demikianlah panduan singkat praktek farmasi klinik untuk pemula, yang disusun dengan harapan agar praktek farmasi klinik menjadi semakin profesional.

Ditulis oleh:
Mahirsyah Wellyan T.W.H., MSc., Apt.
Praktisi farmasi klinik di RSUP Dr Kariadi Semarang
HP 085659251606

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *