Orang yang Bugar Memiliki Risiko Lebih Rendah Terkena Diabetes

Advertisement

Kebugaran, terutama kebugaran sistem pernafasan dan jantung, yang terjaga sejak masa awal dewasa hingga umur paruh baya secara signifikan menurunkan risiko seseorang untuk terkena pradiabetes dan diabetes. Temuan ini dinyatakan oleh sebuah analisis terhadap data penelitian prospektif jangka panjang.

Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Divisi Diabetes, Endokrinologi, dan Metabolisme di Universitas Minnesota menemukan hubungan antara kebugaran dengan berkurangnya risiko terkena pradiabetes dan diabetes. Sebenarnya beberapa penelitian sebelumnya telah mengkonfirmasi fakta bahwa orang yang memiliki kebugaran sistem pernafasan dan jantung memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes, penyakit metabolik dan jantung. Namun penelitian-penelitian tersebut memiliki berbagai keterbatasan, antara lain penggunaan populasi pria yang banyak dan pengukuran durasi yang singkat (5-7 tahun).

Penelitian ini mengukur dampak dari kebugaran sistem pernafasan dan jantung yang terjaga pada masa awal dewasa terhadap perkembangan pradiabetes dan diabetes. Peserta penelitian sebanyak 4373 orang yang berasal dari uji Coronary Artery Risk Development in Young Adult (CARDIA) selama periode pengamatan 20 tahun. Para peserta penelitian, yang direkrut antara tahun 1985-1986 ketika mereka berumur antara 18-30 tahun melakukan tes olahraga treadmill untuk menentukan kebugaran sistem pernafasan dan jantung. Tes treadmill ini diulang selama periode 7 tahun, ketika mereka berumur antara 25-37 tahun. Kemudian mereka menjalani tes treadmill lagi pada tahun ke-20 penelitian, atau ketika mereka berumur 38-50 tahun.

Status pradiabetes atau diabetes diukur pada awal penelitian dan pada tahun ke-7, ke10, ke-15, ke-20, dan ke-25. Pradiabetes didefinisikan sebagai kondisi dimana seseorang memiliki kadar glukosa puasa 5,6-6,9 mmol/L, kadar glukosa 2 jam setelah makan 7,8-11,1 mmol/L, atau kadar HbA1c 5,7-6,4%. Sedangkan diabetes didefinisikan sebagai kondisi dimana terdapat kadar glukosa puasa ≥7 mmol/L, penggunaan obat antidiabetes, kadar glukosa 2 jam setelah makan ≥11,1 mmol/L, atau kadar HbA1c ≥6,5%.

Pada tahun ke-25 sebanyak 1941 (44,5%) peserta penelitian mengalami pradiabetes dan sebanyak 505 (11,5%) peserta mengalami diabetes. Peserta penelitian yang mengalami pradiabetes atau diabetes tersebut cenderung berumur lebih tua, berasal dari ras kulit hitam, dan berjenis kelamin pria. Dengan mempertimbangkan umur, ras, jenis kelamin, dan indeks massa tubuh, tim peneliti menemukan bahwa kebugaran sistem jantung dan pernafasan berkaitan dengan menurunnya risiko terkena pradiabetes dan diabetes. Tingkat kebugaran 8-11% lebih tinggi pada tes treadmill akan menurunkan risiko terkena pradiabetes dan diabetes sebanyak 0,1%.

Penemuan ini semakin menekankan pentingnya kebugaran dalam menekan kejadian pradiabetes dan diabetes. Diduga hal ini berhubungan dengan efek olahraga pada lemak viseral, efek antiinflamasi olahraga, dan efek olahraga terhadap sensitivitas insulin.

Referensi:
Chow, L.S., Odegaard, A.O., Bosch, T.A., Bantle, A.E., Wang, Q., Hughes, J., dkk., 2016. Twenty year fitness trends in young adults and incidence of prediabetes and diabetes: the CARDIA study. Diabetologia, 1–7.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *