Obat Malaria Ini Diklaim Mempercepat Penyembuhan TBC

Advertisement

Obat malaria, artemisinin, yang ditemukan pertama kali oleh ilmuwan di Tiongkok ternyata dapat pula membantu pengobatan TBC dan memperlambat resistensi obat TBC. Sebuah penelitian yang dilakukan di Michigan State University, Amerika Serikat, menemukan bahwa artemisinin mencegah bakteri penyebab TBC, yaitu Mycobacterium tuberculosa, untuk menjadi dorman. Tahap dorman pada bakteri ini ditengarai menjadi penyebab ketidakmanjuran terapi antibiotika.

Penelitian yang dimuat di jurnal Nature Chemical Biology ini menyatakan bahwa dengan cara menghambat fase dorman bakteri, maka antibiotika akan menjadi lebih manjur dan dapat memperpendek waktu terapi pasien. Sekitar sepertiga populasi dunia terinfeksi TBC, sebanyak 1,8 juta orang meninggal pada 2015 menurut data Center for Disease Control and Prevention.

Mycobacterium tuberculosa membutuhkan oksigen untuk hidup di dalam tubuh manusia. Sistem kekebalan tubuh manusia akan menghambat pasokan oksigen ke bakteri ini guna mengendalikan infeksi. Artemisinin diketahui menyerang molekul bernama hem, yang terdapat di sensor oksigen bakteri penyebab TBC. Dengan mengganggu sensor oksigen ini dan mematikannya, artemisinin menghentikan kemampuan bakteri untuk mengetahui seberapa banyak oksigen yang telah diperoleh.

Ketika bakteri kekurangan oksigen, bakteri akan memasuki fase dorman yang akan melindunginya terhadap pengaruh lingkungan yang kurang oksigen. Bila bakteri tidak mampu merasakan kekurangan oksigen, maka bakteri tidak akan memasuki fase dorman dan akan mati. Tim peneliti menemukan bahwa bakteri TBC yang dorman dapat bertahan puluhan tahun di dalam tubuh manusia. Bila sistem kekebalan tubuh manusia menurun, maka bakteri TBC yang dorman ini akan aktif kembali dan menyebar.

Terapi TBC umumnya memakan waktu 6 bulan, dan merupakan salah satu penyebab kegagalan penyembuhan. Pasien terkadang tidak patuh minum obat, hal ini menyebabkan bakteri menjadi kebal terhadap antibiotika. Penemuan mekanisme kerja baru dari artemisinin ini dapat menjadi kunci untuk memperpendek waktu terapi karena bakteri tidak akan memasuki fase dorman. Pada gilirannya hal ini akan memperbaiki hasil klinis pasien dan mencegah berkembangnya bakteri TBC yang kebal terhadap antibiotika.

Referensi:

Huiqing Zheng, Christopher J Colvin, Benjamin K Johnson, Paul D Kirchhoff, Michael Wilson, Katriana Jorgensen-Muga, Scott D Larsen, Robert B Abramovitch. Inhibitors of Mycobacterium tuberculosis DosRST signaling and persistence. Nature Chemical Biology, 2016; DOI: 10.1038/nchembio.2259

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *