Obat Leukimia Ini Ternyata Bisa Digunakan Melawan Penyakit Parkinson

Nilotinib, yang selama ini digunakan untuk terapi leukemia, ternyata punya peluang besar untuk digunakan pada terapi penyakit Parkinson. Hal ini dituturkan oleh tim peneliti dari Georgetown University Medical Center (GUMC) di Washington DC setelah mereka melakukan penelitian terhadap pasien pengidap Parkinson yang diamati selama 15 bulan.

Penyakit Parkinson muncul ketika sel otak yang menghasilkan dopamin berhenti bekerja atau mati. Dopamin merupakan senyawa yang memiliki berbagai fungsi antara lain untuk mengendalikan pergerakan tubuh. Penyakit ini menimbulkan gejala motorik dan non motorik. Gejala motorik meliputi tremor, kaku, pergerakan lamban, dan kesulitan pada keseimbangan tubuh. Gejala non motorik yang dialami pasien pengidap Parkinson meliputi depresi, masalah daya ingat, perubahan emosi, dan konstipasi. Penyakit Parkinson merupakan penyakit yang diderita seumur hidup, dan cenderung untuk memburuk seiring waktu.

Data dari Parkinson’s Foundation menyebutkan bahwa sekitar 60.000 orang didiagnosis Parkinson setiap tahunnya di Amerika Serikat. Penyakit ini umumnya diderita oleh orang berumur 60 tahun ke atas, lebih banyak diidap pria dibandingkan wanita. Ketika gejalanya semakin parah, kualitas hidup pasien akan terganggu.

Ciri khas penyakit Parkinson adalah munculnya protein alfa sinuklein pada area terdampak di otak. Pada penelitian ini, tim ilmuwan menyebutkan bahwa Nilotinib dapat masuk ke dalam otak dan mengurangi protein alfa-sinuklein dan protein tau. Selain itu dopamin juga diduga meningkatkan metabolisme dopamin, oleh karena itu memiliki khasiat potensial untuk mengurangi gejala motorik dan non motorik Parkinson. Tim ilmuwan menggunakan dosis Nilotinib sebesar 150 mg dan 300 mg, dan diklaim aman oleh tim.

Referensi:

Pagan, F.L., Hebron, M.L., Wilmarth, B., Torres-Yaghi, Y., Lawler, A., Mundel, E.E., Yusuf, N., Starr, N.J., Anjum, M., Arellano, J. and Howard, H.H., Nilotinib effects on safety, tolerability, and potential biomarkers in Parkinson disease: a phase 2 randomized clinical trial. JAMA Neurology.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *