Obat Epilepsi Pregabalin Menyebabkan Kerusakan Janin

Advertisement

Obat epilepsi yang umum digunakan untuk mengobati nyeri neuropati dan kelainan psikiatrik ternyata meningkatkan risiko kerusakan janin. Hal ini disimpulkan oleh sebuah penelitian multinasional yang dilakukan oleh tim peneliti dari Swiss Teratogen Information Service dan Rumah Sakit Universitas Lausanne di Swiss. Tim peneliti menyimpulkan bahwa paparan obat pregabalin selama masa kehamilan dapat meningkatkan kerusakan janin sebesar tiga kali lipat. Kerusakan tersebut lebih besar terjadi pada malformasi sistem saraf pusat pada janin.

Penelitian ini melibatkan 164 wanita hamil pengguna pregabalin dan 656 wanita hamil yang bukan pengguna pregabalin sebagai kontrol. Data tersebut diambil dari Layanan Informasi Teratologi di Perancis, Inggris, Italia, Finlandia, Swiss, Belanda, dan Turki. Kelompok pengguna pregabalin lebih cenderung melaporkan bahwa mereka adalah juga perokok (44,2% vs 18,2% kontrol, p<0,001). Selain itu kelompok pengguna pregabalin lebih banyak yang pernah mengalami aborsi spontan dibanding kelompok kontrol (p=0,03) dan memiliki masalah medis yang lebih banyak dibandingkan kontrol (p,<0,001).

Dosis pregabalin rata-rata yang digunakan adalah 150 mg. Obat ini dimulai sebelum kehamilan pada 77% kasus dan dihentikan pada umur kehamilan rata-rata 6 minggu. Paparan pregabalin pada trimester pertama terjadi pada 96% sampel. Malformasi sistem saraf pusat lebih tinggi terjadi pada kelompok pregabalin dibanding kontrol, yaitu 4 kasus dari 125 orang (3,2%) vs 3 kasus dari 570 orang (0,55%) dengan OR 6,2. Tim peneliti juga menemukan bahwa angka kelahiran hidup lebih rendah pada kelompok wanita hamil yang terpapar pregabalin dibandingkan kontrol (71,9% vs 85,2%, p<0,001).

Meskipun tim peneliti mengakui bahwa penelitian lanjutan tetap diperlukan guna mengkonfirmasi hasil temuan ini, namun mereka dapat menyimpulkan bahwa pregabalin hanya dapat diresepkan pada wanita hamil berdasarkan indikasi valid dan setelah melalui analisis risiko-manfaat. Pasien yang terpapar pregabalin selama masa kehamilan harus melakukan pemeriksaan janin.

Pregabalin telah disetujui penggunaannya oleh FDA untuk indikasi epilepsi, fibromialgia, dan nyeri neuropatik, serta digunakan secara off label untuk mengatasi kelainan psikiatrik, termasuk kelainan cemas secara umum. Penelitian yang diterbitkan di jurnal Neurology tersebut memiliki beberapa keterbatasan, salah satunya adalah jumlah sampel yang relatif sedikit. Selain itu terdapat pula kondisi yang tidak seragam, yaitu kondisi medis, pengobatan lainnya, dan penggunaan rokok (lebih banyak perokok pada kelompok sampel pregabalin).

Referensi:
Winterfeld, U., Merlob, P., Baud, D., Rousson, V., Panchaud, A., Rothuizen, L.E., dkk., 2016. Pregnancy outcome following maternal exposure to pregabalin may call for concern. Neurology, 10.1212/WNL.0000000000002767.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *