Obat Diabetes Canagliflozin Meningkatkan Risiko Fraktur Tulang

Advertisement

Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat (FDA) telah memperkuat peringatannya akan risiko fraktur tulang yang diakibatkan oleh canagliflozin. Efek samping fraktur tulang ini telah ditambahkan ke dalam brosur dan etiket obat. Beberapa uji klinis menyatakan bahwa fraktur terjadi pada ekstremitas atas, terjadi setelah 12 minggu menggunakan obat ini. Fraktur ini umumnya berkembang dari trauma kecil, misalnya jatuh dari sandaran kursi.

Pada etiket canagliflozin juga telah ditambahkan adanya risiko efek samping menurunnya kepadatan mineral tulang pada panggul dan tulang belakang bagian bawah. Para tenaga kesehatan disarankan untuk memberi edukasi kepada pasien terkait potensi efek samping tersebut.

Data mengenai efek samping ini diperoleh dari sembilan uji klinik dengan rata-rata paparan 85 minggu terhadap canagliflozin. Hasil uji klinik tersebut menyimpulkan bahwa setiap 100 pasien, terdapat 1,1-1,5 pasien per tahun yang mengalami fraktur tulang. Pemeriksaan kepadatan tulang juga menyimpulkan bahwa terjadi penurunan kepadatan tulang, ketika dosis canagliflozin dinaikkan.

Canagliflozin adalah obat diabetes golongan sodium-glucose cotransporter 2 (SGLT2) inhibitor. Obat lainnya yang termasuk dalam gologan ini adalah dapagliflozin dan empagliflozin. Uji klinik lainnya juga telah dilakukan terhadap pasien yang menggunakan dapagliflozin dan empagliflozin. Uji klinik terhadap dapagliflozin sementara ini menunjukkan adanya sejumlah kecil kasus fraktur tulang yang dialami pada pasien penderita kelainan fungsi ginjal, sedangkan empagliflozin saat ini belum ada keterangan serupa.

Mekanisme terjadinya fraktur tulang dan berkurangnya kepadatan mineral tulang tersebut terjadi karena obat diabetes golongan SGLT2 inhibitor ini meningkatkan konsentrasi fosfat pada serum, diduga akibat dari meningkatnya reabsorpsi tubular. Fosfat akan mengikat kalsium sehingga berpotensi menimbulkan efek samping pada tulang. Selain itu obat diabetes golongan ini juga dapat meningkatkan konsentrasi hormon paratiroid (PTH). Peningkatan konsentrasi PTH akan meningkatkan resorpsi tulang yang berpotensi menyebabkan fraktur. Para ilmuwan menduga bahwa efek samping fraktur tulang ini bukan hanya dimiliki oleh canagliflozin, melainkan juga dimiliki oleh semua golongan obat SGLT2 inhibitor lainnya. Oleh karena itu tenaga kesehatan dan pasien disarankan untuk terus melaporkan efek samping ini kepada lembaga terkait.

Referensi:
Taylor, S.I., Blau, J.E. and Rother, K.I., 2015. Possible adverse effects of SGLT2 inhibitors on bone. The lancet Diabetes & endocrinology, 3(1), pp.8-10.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *