Mengenal Diphteria Antitoksin (DAT), Obat Ampuh Pemusnah Difteri

Merebaknya kasus difteri di beberapa tempat belakangan ini tentunya membuat cemas semua pihak, terutama masyarakat umum. Difteri sebenarnya penyakit yang dapat dikendalikan penyebarannya dengan imunisasi, namun akibat dari penolakan sebagian kalangan masyarakat terhadap imunisasi maka penyakit langka ini mulai muncul lagi ditengah masyarakat. Difteri merupakan sindroma klinis, ditimbulkan oleh eksotoksin yang dihasilkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheria. Toksin atau racun ini akan menyerang sel tubuh, menyebabkan kerusakan sel bahkan kematian. Salah satu terapi bagi pasien yang terserang difteri adalah dengan pemberian DAT, atau antitoksin difteri.

DAT pertama kali dibuat pada tahun 1890 dan masih diproduksi hingga saat ini menggunakan bahan dasar serum dari kuda yang telah dilakukan proses kekebalan (hyperimmunized) terhadap difteri menggunakan toksoid difteri. Bukti efektivitas DAT terhadap difteri berdasarkan observasi dan penelitian yang dilakukan sejak beberapa dekade yang lalu.  Tingkat kematian akibat difteri mencapai 50% sebelum ditemukan DAT. Segera setelah antitoksin ditemukan, tingkat kematian menurun drastis.

Data menunjukkan bahwa terapi permulaan menggunakan DAT sangat penting untuk mencegah kematian pasien. Tingkat kematian meningkat secara progresif dalam interval sejak dimulainya penyakit hingga terapi diberikan, dengan tingkat kematian meningkat drastis dari 4% pasien yang diberi DAT dalam kurun waktu 24-48 jam menjadi 16,1% pada pasien yang diberi DAT pada hari ketiga sakit. Tingkat kematian terus meningkat sejalan dengan semakin ditundanya pemberian DAT, mencapai 29,9% pada pasien yang mendapat DAT pada hari ketujuh atau lebih sejak onset.

Cara pemberian DAT adalah dengan rute intra vena pada kasus berat. Dosis antitoksin dilarutkan dalam 250-500 mL NaCl 0,9% dan diberikan perlahan selama 2-4 jam, monitor potensi anafilaksis. Rute pemberian DAT secara intramuskuler (i.m.) dapat diberikan pada kasus ringan hingga sedang. Antitoksin DAT harus dihangatkan terlebih dahulu sebelum digunakan pada temperatur 32-34 °C, jangan melebihi temperatur ini atau antitoksin akan rusak. Efek samping yang mungkin terjadi akibat DAT adalah reaksi anafilaksis, demam, dan serum sickness.

Referensi:

Expanded Access Investigational New Drug (IND) Application Protocol: Use of Diphtheria Antitoxin (DAT) for Suspected Diphtheria Cases. Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2016

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *