Mencegah Migrain dengan Obat Antikolesterol Golongan Statin

Advertisement

Migrain atau sakit kepala sebelah merupakan penyakit yang banyak diderita. Menurut data, sebanyak 14% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami penyakit ini. Penyakit migrain lebih banyak diderita oleh wanita dibanding pria (19,1% dibanding 9%) dengan angka kejadian tertinggi dialami oleh wanita berumur 18-44 tahun.

Penelitian epidemiologik memperkirakan bahwa 38% penderita migrain membutuhkan terapi pencegahan, namun hanya sekitar 3-13% penderita migrain yang meminum obat pencegah migrain. Pedoman klinis terbaru merekomendasikan obat-obatan seperti obat anti epilepsi (valproat dan topiramat) serta obat golongan beta bloker (metoprolol, propranolol, dan timolol) untuk pencegahan migrain. Sementara itu obat antikolesterol golongan statin (misalnya simvastatin dan atorvastatin) belum tercantum dalam pedoman klinis ini.

Beberapa penelitian telah mengkonfirmasi manfaat obat golongan statin sebagai pencegah migrain. Statin memiliki efek pleiotropik, selain efek antihiperlipidemiknya, hal ini berpotensi mencegah migrain. Mekanisme kerja statin untuk mencegah migrain adalah dengan cara memperbaiki fungsi endotelial, kekakuan arteri, dan tonus vaskuler. Mekanisme lain obat ini sebagai antiinflamasi dan menurunkan agregasi platelet memberikan manfaat tambahan bagi pencegahan migrain.

Statin dapat dipertimbangkan untuk digunakan pasien yang tidak respon dengan obat-obatan lini pertama pencegah migrain. Statin akan lebih efektif dalam mencegah migrain bila kadar vitamin D tubuh cukup. Sebelum memulai terapi statin untuk mencegah migrain, sebaiknya pastikan dahulu bahwa pasien tidak kekurangan vitamin D. Sejauh ini obat golongan statin memiliki profil keamanan yang cukup baik, namun diperlukan lebih banyak penelitian dengan jumlah sampel yang besar untuk menjadikan obat ini tercantum dalam pedoman klinis lini pertama pencegahan migrain.

Referensi:

Buettner C, Nir RR, Bertisch SM, et al. Simvastatin and vitamin D for migraine prevention: a randomized, controlled trial. Ann Neurol. 2015;78:970-981

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *