Mekanisme Osteoporosis Akibat Obat Kortikosteroid dan Pencegahannya

Advertisement

Efek samping utama kortikosteroid pada tulang adalah terganggunya pembentukan tulang. Telah dibuktikan bahwa hal ini merupaka efek langsung kortikosteroid, bukan akibat dari proses inflamasi. Kadar kortikosteroid yang tinggi di dalam darah secara signifikan mengurangi laju pembentukan tulang, jumlah osteoblas, serta aktivitas dan jumlah osteosit.

Penurunan diferensiasi osteoblas termasuk proses induksi faktor transkripsi adipogenetik (PPARγ) dan supresi persinyalan protein Wnt. Peningkatan apoptosis pada osteoblas dan osteosit berkaitan dengan aktivasi enzim caspase 3. Lebih lanjut lagi, fungsi osteoblas menurun akibat dari efek anti anabolik kortikosteroid, misalnya penurunan sekresi GH, IGFI, dan IGFBP. Kortikosteroid juga memperpendek umur osteosit, serta mengubah sifat matriks di sekeliling lakunae osteosit.

Kortikosteroid juga meningkatkan ekspresi ligan RANK dan menurunkan ekspresi osteoprotegerin pada sel-sel stromal dan osteoblastik. Sebagai akibatnya, umur osteoklas menjadi memanjang (dibandingkan dengan memendeknya umur osteoblas).

Efek Samping Tidak Langsung pada Tulang
Kortikosteroid mempengaruhi metabolisme kalsium dengan cara menurunkan penyerapan kalsium pada saluran pencernaan dan membuang kalsium melalui ginjal. Selain itu kortikosteroid juga menurunkan produksi hormon reproduksi steroid, dan tentunya hipogonadisme sendiri juga dapat memacu meningkatnya proses resorpsi tulang. Terdapat pula efek samping miopati pada penggunaan kortikosteroid, hal ini menyebabkan kelemahan otot dan menjadi salah satu faktor meningkatnya risiko jatuh dan patah tulang.

Mencegah Osteoporosis pada Penggunaan Kortikosteroid
Pencegahan osteoporosis dapat dilakukan secara farmakologis maupun non farmakologis. Pendekatan non farmakologis menggunakan suplementasi kalsium ketika pasien menerima terapi kortikosteroid, sedangkan pendekatan secara farmakologis menggunakan obat golongan bifosfonat dan teriparatide.
Obat anti osteoporosis golongan bifosfonat bermanfaat untuk mencegah kehilangan massa tulang dan meningkatkan nilai BMD. Berikut ini adalah contoh obat golongan bifosfonat:
Alendronat, digunakan dengan dosis per oral 5 mg atau 10 mg sekali sehari, atau 70 mg sekali seminggu.
Risedronat, digunakan secara oral dengan dosis 5 mg per hari atau dapat pula 35 mg sekali seminggu.
Zoledronat, digunakan secara infusi intravena dengan dosis 5 mg sekali setahun.

Selain bifosfonat, digunakan pula teriparatide, yakni suatu rekombinan hormon paratiroid peptida yang menghasilkan efek anabolik pada tulang dengan cara merangsang pertumbuhan tulang. Disebutkan bahwa efek teriparatide lebih baik dibandingkan dengan alendronat untuk meningkatkan nilai BMD.

Selain kedua obat tersebut, saat ini telah tersedia suatu antibodi monoklonal bernama denosumab. Denosumab adalah antibodi monoklonal yang dapat mengurangi pergantian tulang dan meningkatkan BMD pada semua lokasi tulang. Mediator-mediator yang berperan penting dalam proses osteoporosis  salah satunya adalah RANK-L, yang dimana akan berikatan dengan RANK yang akan mengaktifkan sistim osteoklasgenesis. Dengan dihambatnya ikatan antara RANK-L dan RANK maka proses osteklasgenesis dapat dihambat dan mengurangi faktor resiko osteoporosis. Denosumab adalah salah anti RANK-L, yang akan menduduki reseptor RANK-L sehingga ikatan antara RANK tidak dapat terjadi.

Denosumab mengurangi fraktur pada semua lokasi tulang dan memilki profil keamanan yang sangat baik dalam 3 tahun penggunaan. Denosumab diberikan dengan dosis 60 mg s.c. setiap 6 bulan. Denosumab yang dikombinasikan dengan teriparatide memiliki manfaat yang lebih besar untuk mencegah osteoporosis dibandingkan bila keduanya digunakan secara tunggal.

Referensi:

Tsai, J.N., Uihlein, A.V., Burnett-Bowie, S.-A.M., Neer, R.M., Zhu, Y., Derrico, N., dkk., 2015. Comparative Effects of Teriparatide, Denosumab, and Combination Therapy on Peripheral Compartmental Bone Density, Microarchitecture, and Estimated Strength: the DATA-HRpQCT Study. Journal of Bone and Mineral Research, 30: 39–45.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *