Koyo Ini Efektif Mengatasi Alergi Kacang

Advertisement

Penghantaran protein kacang melalui kulit oleh koyo, metode yang dikenal dengan nama imunoterapi epikutan, aman dan menjanjikan harapan untuk menterapi alergi kacang, khususnya pada anak-anak. Hal ini dinyatakan oleh sebuah penelitian yang tengah berlangsung. Alergi kacang merupakan salah satu jenis alergi yang mengancam jiwa, sehingga terapi alternatifnya sangat diharapkan oleh masyarakat.

Penelitian yang tengah berlangsung pada fase II ini berjenis double blind, mengacak 74 orang (umur 4-20 tahun, median 8,2 tahun) yang memiliki alergi kacang dengan plasebo (n=25), 100 µg imunoterapi kacang/VP100 (n=24), dan 250 µg imunoterapi kacang/VP250 (n=25). Kedua dosis imunoterapi tersebut diberikan melalui koyo yang dinamakan VP (Viaskin Peanut/VP). Kriteria sukses menurut definisi peneliti adalah para peserta dapat mengkonsumsi 5,044 mg protein secara oral atau memiliki ≥10 kali lipat peningkatan SCD (successfully consumed dose) protein pada minggu ke-52 dibandingkan kondisi baseline.

Dibandingkan dengan kelompok plasebo (12 %), terdapat lebih banyak peserta di kelompok VP100 (46 %, p=0,005) dan kelompok VP250 (48 %, p=0,003) yang termasuk ke dalam kriteria sukses pada minggu ke-52. Kriteria sukses ini lebih tinggi secara signifikan pada anak berumur ≤11 tahun dibandingkan dengan anak yang berumur lebih dari 11 tahun (61 %, p=0,0003 untuk VP250 dan 59 %; p=0,0006 untuk VP100 vs 6 % untuk kelompok plasebo).

Peningkatan nyata juga terlihat pada kadar IgG4 yang spesifik terhadap kacang dan rasio antara IgG4/IgE (p<0,0001 keduanya) antara kelompok terapi dan kelompok plasebo. Sebagai tambahan, terdapat pula tren penurunan kadar sitokin spesifik terhadap kacang, yakni TH2 (p=0,059 untuk interleukin-4 dan p=0,04 untuk interleukin-3) dan aktivasi basofil. Tren tersebut menunjukkan bahwa paparan kacang di kulit dapat memodulasi respons TH2 dan reaktivitas basofil.

Terapi alergi kacang menggunakan koyo ternyata cukup nyaman, hal ini dibuktikan dengan kepatuhan terhadap terapi yang tinggi (97,1 %). Meskipun reaksi efek samping terjadi lebih sering pada kelompok terapi (79,8 % pada VP100 dan 79,7 % pada VP250), namun efeknya ringan (≤derajat 2). Saat ini tim peneliti tengah melanjutkan penelitian ini untuk mendapatkan hasil pada minggu ke-130.

Referensi:

J Allergy Clin Immunol 2016;doi:10.1016/j.jaci.2016.08.017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *