Kini Antibiotika Doksisiklin Bisa Mengobati Penyakit Parkinson

Advertisement

Sebuah penelitian yang diterbitkan di jurnal Scientific Report menyatakan bahwa antibiotika doksisiklin, yang selama ini hanya digunakan untuk melawan infeksi bakteri, kini dapat juga digunakan untuk terapi Parkinson. Menurut para ilmuwan, doksisiklin mampu menurunkan toksisitas alfa sinuklein, sejenis protein yang meracuni otak. Penyakit Parkinson terjadi bila otak kekurangan sel saraf penghasil dopamin, hal ini menyebabkan gejala seperti tremor, gerakan melambat dan kaku. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat digunakan untuk menghambat proses ini.

Uniknya, penemuan doksisiklin sebagai obat Parkinson terjadi tanpa sengaja. Hal ini bermula ketika tim ilmuwan tersebut sedang meneliti terapi alternatif yang dapat digunakan untuk melawan Parkinson. Senyawa 6-OHDA disuntikkan ke 40 tikus percobaan guna membunuh sel saraf penghasil dopamin. Ternyata hanya 2 tikus yang sel sarafnya banyak terbunuh dan mengalami gejala Parkinson, sementara tikus lainnya tetap sehat. Setelah ditelusuri, ternyata tikus-tikus tersebut baru diberi makan yang mengandung antibiotika doksisiklin, dan para ilmuwan menjadi tertarik untuk meneliti lebih dalam lagi mengenai manfaat neuroprotektif doksisiklin.

Pada penelitian ini tim ilmuwan mengamati efek neuroprotektif yang ditunjukkan oleh doksisiklin terhadap tikus percobaan. Diharapkan hasilnya juga akan sama dengan manusia, oleh karena itu tim ilmuwan berencana mengadakan uji klinik dalam waktu dekat. Senyawa alfa sinuklein dapat merusak membran sel saraf dan menyebabkan kematian sel saraf. Senyawa ini juga diduga berperan dalam perkembangan penyakit Lewy Body Dementia (LBD), selain Parkinson. Oleh karena senyawa alfa sinuklein dapat dihambat oleh doksisiklin, maka peluang doksisiklin guna mengobati penyakit-penyakit degeneratif ini menjadi terbuka lebar.

Referensi:

González-Lizárraga, Florencia, dkk. Repurposing doxycycline for synucleinopathies: remodelling of α-synuclein oligomers towards non-toxic parallel beta-sheet structured species. Scientific Reports, 2017; 7: 41755

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *