Jus Apel Lebih Baik Daripada Cairan Elektrolit untuk Anak Penderita Gastroenteritis

Advertisement

Pengobatan sederhana, misalnya pemberian jus apel ternyata lebih efektif daripada cairan elektrolit untuk menangani gastroenteritis anak serajat sedang. Temuan ini disampaikan oleh tim peneliti yang mempelajari data 647 pasien anak di Kanada penderita gastroenteritis derajat sedang dan mengalami dehidrasi minimal. Pasien yang diberikan jus apel mengalami lebih sedikit kegagalan terapi dibandingkan dengan pasien yang diberi cairan elektrolit standar.

Temuan ini menantang rekomendasi sebelumnya yang menyarankan pemberian cairan elektrolit standar untuk menangani diare. Penelitian yang dilakukan di Alberta Children’s Hospital Research Institute, Universitas Calgary, Kanada, melibatkan pasien anak berumur 6-60 bulan yang datang ke UGD dengan gejala gastroenteritis derajat sedang pada bulan Oktober dan April tahun 2010 hingga 2015. Pasien yang dipilih adalah yang memiliki berat badan minimal 8 kg dan memiliki paling tidak 3 episode muntah atau diare dalam jarak 24 jam sebelumnya, dan gejalanya bertahan tidak lebih dari 96 jam.

Pasien anak-anak tersebut memiliki umur rata-rata 28,3 bulan (SD 15,9 bulan) dan termasuk 331 anak laki-laki. Tim peneliti secara acak memberikan anak-anak tersebut jus apel atau cairan elektrolit standar yang diberi rasa apel. Bagi pasien yang muntah, ondansetron diberikan dengan dosis standar. Setelah pulang dari UGD, kelompok pasien anak yang dipelajari tersebut dapat meminum minuman yang mereka sukai, misalnya jus, susu, atau minuman lainnya. Sedangkan anak-anak pada kelompok kontrol tetap menerima cairan elektrolit rumatan standar. Para perumat diberi tugas untuk memberikan cairan-cairan tersebut dengan dosis 2 mL/kg berat badan setiap kali muntah dan 10 mL/kg berat badan setiap kali diare. Para perumat juga mendapatkan sebuah buku catatan dan diminta untuk mencatat secara terperinci frekuensi gejala dan kunjungan dokter untuk tindak lanjut.

Dari 323 anak yang mendapat jus dan minuman yang disukai, 54 anak (16,7%) mengalami kegagalan terapi (95% CI 12,8%-21,2%) dibandingkan dengan 81 anak (25%) dari 324 anak yang diberi cairan elektrolit (95% CI; 20,4%-30,1%; P<0,001). Kegagalan terapi didefinisikan sebagai rehidrasi intravena, kunjungan ulang ke rumah sakit atau kunjungan dokter di luar jadwal, memburuknya gejala, berkurangnya 3% berat badan atau gejala lain dehidrasi yang terjadi dalam kurun 7 hari.

Tim peneliti menduga bahwa anak pada kelompok jus apel lebih suka minum dibandingkan dengan anak pada kelompok cairan elektrolit standar, walaupun sudah diberi rasa yang serupa dengan jus apel. Keterbatasannya adalah penelitian ini dilakukan di negara dengan pendapatan tinggi, sehingga hasilnya mungkin saja tidak dapat diekstrapolasikan dengan anak-anak pada negara berpendapatan sedang dan rendah. Walaupun demikian, tim peneliti menyimpulkan bahwa pada negara dengan pendapatan tinggi, penggunaan jus apel dan minuman yang disukai anak-anak dapat menjadi alternatif yang sesuai bagi cairan elektrolit rumatan pada anak-anak yang mengalami gastroenteritis derajat sedang dengan dehidrasi minimal.

Referensi:
Freedman SB, Willan AR, Boutis K, Schuh S. Effect of Dilute Apple Juice and Preferred Fluids vs Electrolyte Maintenance Solution on Treatment Failure Among Children With Mild Gastroenteritis: A Randomized Clinical Trial. JAMA. 2016;315(18):1966-1974. doi:10.1001/jama.2016.5352.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *