Diet Garam yang Terlalu Ketat Ternyata Tidak Baik untuk Pengidap Hipertensi

Advertisement

Menurunkan asupan garam biasanya direkomendasikan bagi orang yang menderita hipertensi. Akan tetapi sebuah penelitian terbaru menyatakan bahwa pola diet seperti ini malah membuat pengidap hipertensi lebih rentan terkena penyakit jantung dan pembuluh darah serta kematian. Natrium dan klorida yang terkandung di garam merupakan elektrolit yang membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh dan impuls saraf. Kedua ion ini juga membantu tubuh menyerap glukosa, asam amino dan air, yang tentunya mengendalikan tekanan darah. Asupan garam per hari yang direkomendasikan adalah 5 gram menurut The Singapore Health Promotion Board.

Terlalu banyak asupan garam akan menyebabkan retensi cairan dan tekanan darah tinggi. Oleh karena beberapa orang lebih sensitif terhadap efek garam daripada orang lain, maka mereka akan membatasi asupan garamnya. Penelitian ini dilakukan oleh tim peneliti dari Sekolah Kedokteran Universitas McMaster dengan mengambil data kesehatan dari 133.118 pasien, sebanyak 63.559 di antaranya adalah pengidap hipertensi. Tim peneliti membandingkan konsumsi garam guna melihat hubungan antara asupan garam dan serangan jantung, stroke, dan kematian.

Tim peneliti menemukan bahwa orang yang asupan garamnya rendah memiliki risiko lebih tinggi terkena serangan jantung, stroke, atau kematian bila dibandingkan dengan orang yang asupan garamnya sedang. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa hanya beberapa pengidap hipertensi yang memiliki asupan tinggi garam di makanannya yang perlu dibatasi asupan garamnya. Menurut ketua tim peneliti, Andrew Mente, asupan garam yang rendah menurunkan tekanan darah secara sedang, namun juga memiliki efek samping yaitu meningkatnya kadar hormon tertentu yang imbasnya malah merugikan pengidap hipertensi.

Menurunkan asupan garam ke jumlah yang lebih rendah daripada asupan garam yang direkomendasikan terbukti tidak menguntungkan bagi jantung, malah dapat merugikan. Dengan memotong pasokan ion natrium pada tubuh menyebabkan tubuh berjuang mengatur konsumsi air sel, menyebabkan bengkak. Akibatnya terjadi kelelahan, diikuti dengan mual, konfusio, kelemahan otot dan kram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *