Demam pada Masa Awal Kehamilan Membuat Janin Cacat

Advertisement

Para ilmuwan telah mengetahui selama beberapa dekade bahwa demam pada trimester pertama kehamilan akan meningkatkan risiko kelainan jantung dan deformasi wajah, misalnya bibir sumbing. Penyebab pastinya belum diketahui dengan baik. Selama ini para ilmuwan menduga bahwa virus atau infeksi lainnya yang menjadi penyebab hal tersebut, diduga pula bahwa demam itu sendiri yang menjadi penyebabnya.

Kini nampaknya para ilmuwan telah mengetahui jawabannya dengan lebih baik lagi. Tim ilmuwan menyatakan bahwa demam itu sendiri yang menyebabkan gangguan pembentukan jantung dan rahang selama masa kehamilan awal. Hasil penemuan ini dipublikasikan di jurnal Science Signaling. Menurut penelitian ini, kelainan kongenital pada saat lahir dapat dicegah dengan cara menurunkan demam yang dialami ibu hamil pada trimester awal menggunakan obat-obatan misalnya parasetamol.

Parasetamol merupakan obat demam yang relatif aman bagi ibu hamil. Sebenarnya obat lainnya, misalnya NSAID seperti ibuprofen dan aspirin, juga dapat menurunkan demam, akan tetapi obat-obatan ini kurang aman untuk digunakan pada trimester akhir kehamilan. Fakta ini membuat parasetamol menjadi obat demam pilihan bagi ibu hamil.

Pada penelitian ini tim ilmuwan menemukan bahwa sel pembentuk jantung, wajah, dan rahang pada embrio ternyata sangat sensitif terhadap perubahan temperatur. Bila terjadi kenaikan temperatur tubuh, misalnya demam, embrio akan mengalami gangguan pembentukan jantung, wajah, dan rahang. Jenis kecacatan tergantung pada masa terjadinya demam, apakah terjadi pada saat pembentukan wajah dan kepala, ataukah pada saat terjadi pembentukan jantung. Hasil penelitian ini memberikan pengaruh yang sangat besar, karena kini kelainan jantung dan wajah pada bayi dapat dicegah dengan cara mengedukasi wanita hamil akan bahayanya demam selama kehamilan, serta pentingnya penggunaan parasetamol pada kasus ini.

Referensi:

Mary R. Hutson et al. Temperature-activated ion channels in neural crest cells confer maternal fever–associated birth defects. Science Signaling, October 2017 DOI: 10.1126/scisignal.aal4055

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *