Coklat, Lezat dan Menyehatkan

Advertisement

Tanaman coklat (Theobroma cacao) berasal dari Amerika, dibudidayakan oleh masyarakat Indian setempat dan menjadi populer di Eropa setelah diperkenalkan oleh para penakluk dari Spanyol pada abad ke-16. Buah coklat memiliki kulit yang kasar dan relatif tebal, bagian dalamnya berisi daging buah yang melapisi biji-bijinya.

Beragam produk coklat yang lezat diperoleh dengan cara mengolah biji coklat setelah buahnya cukup umur untuk dipanen. Biji coklat ini biasanya mengalami proses fermentasi, kemudian dijemur. Di pabrik pengolah coklat, biji-biji ini dicuci bersih dan dipanggang, kemudian dihaluskan dengan berbagai metode sehingga menghasilkan pasta coklat. Pasta coklat ini kemudian diolah lagi dengan lemak coklat, gula, dan lesitin (sebagai pengemulsi), serta vanila, kemudian dimurnikan.

Selain lezat disantap, coklat juga memiliki khasiat bagi kesehatan tubuh. Buah coklat mengandung senyawa flavonoid dengan kadar tinggi, khususnya jenis epicatechin, yang memiliki manfaat bagi kesehatan kardiovaskular. Namun perlu dicatat di sini bahwa kandungan flavonoid coklat berkurang dengan adanya proses pengolahan coklat.

Coklat juga mengandung antioksidan berkadar tinggi. Sebuah penelitian yang dilakukan di Cornell University membuktikan bahwa coklat bubuk memiliki kandungan antioksidan hampir dua kali lipat kandungan antioksidan anggur merah, dan lebih dari tiga kali kandungan antioksidan teh hijau. Berbagai vitamin dan mineral seperti vitamin C, magnesium, besi, kromium, dan seng juga terkandung dalam coklat.

Makanan yang kaya akan coklat mampu menurunkan tekanan darah, hal yang tidak dapat dilakukan oleh teh hijau atau teh hitam. Dari berbagai manfaat yang ada, maka tepatlah kiranya apabila coklat mendapat predikat lezat dan menyehatkan.

Referensi:

Nurk, Eha; Refsum, H.; Drevon, C. A.; Tell, G. S.; Nygaard, H. A.; Engedal, K.; Smith, A. D.; Vollset, SE; Refsum, H (2009). “Intake of Flavonoid-Rich Wine, Tea, and Chocolate by Elderly Men and Women Is Associated with Better Cognitive Test Performance”. Journal of Nutrition. 139 (1): 120–127.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *