Brivaracetam, Obat Antiepilepsi Terbaru

Advertisement

Pada bulan Februari lalu, badan pengawasan obat dan makanan di Amerika Serikat, yaitu FDA (Food and Drug Administration) telah menyetujui penggunaan obat antiepilepsi baru yaitu brivaracetam untuk terapi tambahan partial-onset seizure pada pasien berusia 16 tahun ke atas. Obat ini merupakan obat antiepilepsi pertama sejak disetujuinya eslicarbazepine pada tahun 2013 oleh FDA untuk terapi partial-onset seizure.

Brivaracetam memiliki afinitas tinggi untuk berikatan dengan synaptic vesicle protein  (SV2A). Protein ini, yang berlokasi di membran prasinaps, mengendalikan eksositosis neurotransmitter yang tergantung pada ion kalsium menuju sinaps. Obat antiepilepsi yang berikatan dengan SV2A akan menurunkan pelepasan neurotransmitter menuju sinaps dan mengendalikan kejang. Afinitas terhadap SV2A brivaracetam lebih tinggi 15-30 kali dibandingkan levetiracetam, sehingga dosis brivaracetam menjadi 10 kali lebih sedikit dibandingkan levetiracetam.

Sebuah meta analisis terhadap 6 penelitian menguji brivaracetam terhadap 1715 orang dari 2399 peserta penelitian yang terdaftar. Brivaracetam mampu menurunkan kejadian kejang lebih baik dibandingkan plasebo (RR 1,79), selain itu brivaracetam juga dapat membebaskan pasien dari kejang (RR 4,74). Efek samping yang paling sering terjadi adalah iritabilitas, lelah, somnolens, dan mengantuk.

Baik brivaracetam maupun levetiracetam memiliki susunan kimia yang serupa serta mekanisme kerja yang sama, namun perbedaan efektivitasnya belum pernah dibandingkan secara head to head. Sebuah meta analisis dan perbandingan tak langsung kedua obat tersebut dilakukan oleh 13 penelitian. Hasilnya menunjukkan bahwa brivaracetam tidak lebih unggul dibandingkan levetiracetam. Terdapat kerjadian efek samping mengantuk yang lebih banyak pada pasien yang menggunakan brivaracetam dibandingkan levetiracetam. Akan tetapi ada satu penelitian prospektif open-label berjumlah sampel kecil (n=29) yang menunjukkan bahwa pada pasien yang beralih dari levetiracetam ke brivaracetam, kualitas hidup pasien meningkat dan tidak ada kejang yang dialami pasien. Oleh karena brivarasetam merupakan obat baru, maka efektifitas dan keamanan jangka panjangnya belum diketahui.

 

Referensi:

Lattanzi S, Gagnetti C, Foschi N, Provinciali L, Silvestrini M. Brivaracetam add-on for refractory focal epilepsy: a systematic review and meta-analysis. Neurology. 2016;86:1344-1352.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *