BPOM Memperingatkan Risiko Fanconi Syndrome Akibat Zoledronic Acid

Advertisement

Pada tanggal 23 November ini, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan surat edaran yang berisi risiko Fanconi syndrome akibat pemakaian Zoledronic Acid. Surat edaran ini dikeluarkan BPOM menyusul adanya laporan dari Health Sciences Authority (HSA) Singapura yang menyatakan terdapatnya satu kasus fanconi syndrome akibat pemakaian zoledronic acid.

Pasien yang terkena fanconi syndrome ini mengalami ketidakseimbangan elektrolit yaitu hipokalsemia, hipofosfatemia, hipokalemia, dan kadar asam urat rendah setelah 10 hari menerima dosis tunggal infus intravena Zoledronic Acid 4 mg. Pasien tersebut didiagnosis bone metastases secondary dengan kanker prostat, sehingga mendapat Zoledronic Acid. Beberapa kasus fanconi syndrome akibat Zoledronic Acid telah dilaporkan terjadi di literatur, dikatakan bahwa kondisi pasien membaik setelah Zoledronic Acid dihentikan.

Fanconi syndrome adalah gangguan pada ginjal, khususnya di tubulus proksimal. Hal ini menyebabkan ginjal kehilangan glukosa, protein, bikarbonat, kalsium, asam urat, asam amino, dan senyawa organik lainnya. Fanconi syndrome menyebabkan gejala klinis antara lain berupa amino aciduria, organic aciduria, dan asidosis metabolik.

Terkait risiko ini, BPOM menghimbau kepada profesional kesehatan di Indonesia agar mewaspadai gejala klinis fanconi syndrome dan melakukan monitoring fungsi ginjal secara ketat pada pasien yang diresepkan Zoledronic Acid guna menghindari potensi nefrotoksisitas. Di Indonesia, sampai saat ini BPOM belum menerima laporan efek samping terkait penggunaan Zoledronic acid, namun perlu diwaspadai bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *