Berbagai Antibiotika yang Resisten Terhadap Bakteri

Advertisement

Resistensi antibiotika merupakan hal yang sangat menakutkan karena bila bakteri sudah kebal (resisten) terhadap antibiotika maka nyawa pasien menjadi taruhannya. Berikut ini adalah daftar antibotika yang telah resisten terhadap bakteri:

Antibiotika golongan beta laktam, resisten oleh Staphylococcus aureus.
Bakteri yang resisten terhadap golongan beta laktam ini lebih dikenal dengan nama MRSA (methicillin-resistant Staphylococcus aureus). Antibiotika yang termasuk golongan beta laktam memiliki struktur beta laktam pada intinya. Golongan beta laktam ini terdiri dari beberapa kelompok, yaitu:
• Kelompok penam, contohnya benzatin penisilin, benzil penisilin, prokain penisilin, methicillin, amoxicillin, ampicillin, dan piperacillin)
• Kelompok cephem, contohnya antibiotika sefalosporin (cefadroksil, ceftazidim, ceftriakson, cefotaksim, cefixime, cefazolin, dan cefuroxime)
• Kelompok carbapenem dan penem, contohnya meropenem, imipenem, dan doripenem
• Kelompok monobactam, contohnya aztreonam dan tigemonam
Resistensi tehadap golongan antibiotika ini merupakan endemik di berbagai rumah sakit. MRSA telah banyak dikaitkan dengan berbagai kejadian infeksi nosokomial, misalnya infeksi pada kateter, ventilator, dan pada luka operasi. Organisme Staphylococcus aureus sebenarnya merupakan flora normal, banyak terdapat pada kulit dan saluran pernafasan manusia. Strain patogen dari Staphylococcus aureus menyebabkan berbagai infeksi mulai dari infeksi ringan (abses, impetigo) hingga infeksi berat (pneumonia, meningitis, dan sepsis). CDC (The Centers for Disease Control and Prevention) telah mengidentifikasi beberapa jenis strain MRSA, yakni strain MRSA USA 100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, dan 800. Selain itu terdapat pula strain MRSA USA 1000 dan USA 1100. Strain USA 300 MRSA banyak ditemukan pada luka yang terinfeksi, sedangkan strain USA 100 MRSA umumnya dijumpai pada hasil swab rongga hidung. Strain USA 100 dikaitkan dengan penyakit invasif pada pasien di rumah sakit dan telah diduga sebagai strain MRSA yang juga resisten terhadap vancomycin. Sifat patogen dari Staphylococcus aureus disebabkan karena pengaruh adaptasi dan evolusi bakteri, sehingga bakteri menjadi lebih virulen dan lebih resisten terhadap antibiotik.

Vancomycin, resisten oleh Staphylococcus aureus
Vancomycin adalah antibotika golongan glikopeptida, memiliki efektivitas terutama pada bakteri gram positif. Vancomycin bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel bakteri gram positif, oleh karena terdapat perbedaan antara dinding sel bakteri gram positif dengan bakteri gram negatif, maka hal ini menjelaskan selektifitas vancomycin terhadap bakteri gram positif. Antibiotika ini digunakan pertama kalinya untuk mengatasi infeksi Staphylococcus aureus yang resisten terhadap penisilin. Saat ini, vancomycin digunakan terutama untuk menangani infeksi berat yang disebabkan bakteri gram positif yang resisten terhadap antibiotika lainnya. Akan tetapi karena penggunaannya yang berlebihan telah memacu munculnya strain Staphylococcus aureus baru. Terdapat 3 strain Staphylococcus aureus yang dibedakan berdasarkan kerentanannya terhadap vancomycin, yaitu:
Vancomycin-intermediate Staphylococcus aureus (VISA)
Disebut pula sebagai GISA (glycopeptide-intermediate Staphylococcus aureus), menandakan bahwa kelas ini juga memiliki sensitifitas yang berkurang terhadap antibiotika glikopeptida lainnya. VISA pertama kali diidentifikasi di Jepang pada tahun 1997. Strain Staphylococcus aureus ini memiliki dinding sel yang menebal, sehingga diduga menjadi salah satu faktor menurunnya kemampuan vancomycin untuk berdifusi ke dalam dinding sel untuk menghambat sintesisnya.
heterogeneous Vancomycin-intermediate Staphylococcus aureus (hVISA)
Strain ini, seperti halnya VISA, juga pertama kali dilaporkan di Jepang pada tahun 1997. Jumlah kasus hVISA lebih banyak dari pada VISA, umumnya berkembang dari MRSA, kadangkala dari MSSA (methicillin-sensitive Staphylococcus aureus). Angka kejadian hVISA dari strain MRSA sangat bervariasi, yakni 0,7-50%, dengan nilai median 10%. Pada hVISA terdapat penurunan sensitifitas terhadap vancomycin, namun tidak dapat dideteksi pada pemeriksaan MIC standar. Diduga hVISA berasal dari strain Staphylococcus aureus yang sensitif terhadap vancomycin (VSSA/vancomycin-susceptible Staphylococcus aureus), namun mendapatkan paparan antibiotika ini dalam jangka waktu lama.
High level vancomycin-resistant Staphylococcus aureus (VRSA)
Kasus ditemukannya strain ini termasuk jarang terjadi, sepanjang tahun 2002 hingga 2010 dilaporkan 10 kasus VRSA di seluruh dunia. Pada kasus yang ditemukan di Amerika Serikat, semuanya berasal dari infeksi kulit dan atau jaringan lunak. Sebuah case report pada seorang pasien di Brazil yang menderita infeksi kulit yang parah dan infeksinya menyebar ke aliran darah, ditemukan bahwa VRSA berasal dari strain Staphylococcus aureus yang sensitif terhadap vancomycin (VSSA/vancomycin-susceptible Staphylococcus aureus). Pasien ini secara berulangkali mendapatkan terapi antibotika golongan beta laktam dan glikopeptida, dan ternyata ditemukan bahwa strain VSSA ini memperoleh kluster gen vanA selama terapi antibiotik tersebut, dan akhirnya menjadi kebal terhadap vancomycin.

Vancomycin, resisten oleh Enterococcus
Genus Enterococcus yang resisten terhadap vancomycin, dikenal pula dengan nama lain VRE (vancomycin-resistant Enterococcus). VRE berasal dari bakteri Enterococcus yang masih sensitif terhadap vancomycin, namun memperoleh DNA baru dalam bentuk plasmid atau transposon yang akan mengode gen sehingga bakteri ini menjadi kebal terhadap vancomycin. VRE dikaitkan dengan infeksi nosokomial, menurut CDC disebutkan bahwa spesies E. faecium yang resisten terhadap vancomycin dikaitkan dengan angka infeksi terkait pelayanan kesehatan, yakni sebesar 4% di Amerika Serikat. VRE dapat dibawa oleh manusia sehat yang sebelumnya telah mengalami kontak dengan VRE di rumah sakit. VRE juga menjadi momok bagi penerima transplantasi organ, khususnya hati. Kolonisasi VRE telah dikaitkan dengan meningkatnya risiko infeksi dan kematian pada pasien penerima transplantasi hati. Pemberian poli etilen glikol untuk dekolonisasi VRE, dilanjutkan pemberian linezolid dan daptomycin, serta probiotik L rhamnosus telah berhasil mengurangi risiko kolonisasi VRE pada pasien penerima transplantasi hati.

Antibiotika beta laktam, resisten terhadap enzim beta laktamase
Enzim beta laktamase merupakan enzim yang dihasilkan oleh beberapa bakteri. Enzim ini dapat memecah struktur beta laktam antibiotik, sehingga bakteri menjadi resisten karena antiotik menjadi tidak aktif. Terdapat 2 penggolongan beta laktamase, yakni berdasarkan sekuens asam amino dan berdasarkan fungsionalitas. Umumnya bakteri penghasil beta laktamase resisten terhadap golongan antibiotika penisilin, namun masih sensitif terhadap golongan antibiotika cefalosporin spektrum luas. ESBL, atau extended-spectrum beta lactamase, adalah enzim beta laktamase yang dapat menghidrolisis struktur beta laktam pada golongan cefalosporin spektrum luas, contohnya cefotaxime, ceftriaxone, dan ceftazidime, termasuk juga aztreonam. ESBL dikodekan oleh plasmid, dan ditemukan bahwa plasmid menyebabkan bakteri menjadi tahan pula terhadap antibiotika golongan lainnya, misalnya aminoglikosida. Oleh karena itu pilihan antibiotik pada terapi ESBL menjadi sangat terbatas. Carbapenem merupakan antibiotika pilihan untuk ESBL, namun telah ditemukan pula adanya kasus ESBL yang sudah resisten terhadap carbapenem.

Antibiotika golongan kuinolon
Antibiotika kuinolon merupakan antibiotika sintetik yang memiliki spektrum luas, bekerja dengan cara menghambat duplikasi DNA bakteri. Sebagian besar kuinolon memiliki sebuah atom fluorin yang terikat pada cincin pusatnya, yakni posisi C-7. Resistensi terhadap antibotika kuinolon terutama disebabkan oleh mutasi pada gen DNA gyrase, yakni gyrA. Ditemukan bahwa sebanyak 51% isolat yang resisten terhadap kuinolon juga bersifat multiresisten terhadap antibotika lain.

Antibiotik golongan aminoglikosida
Antibiotika aminoglikosida merupakan antiobiotika yang memiliki sensitifitas terhadap bakteri aerob gram negatif dan beberapa basil anaerob. Contoh antibiotika aminoglikosida adalah streptomisin, azitromisin, kanamisin, amikacin, tobramicin, dan gentamicin. Antibiotika ini menghambat sintesis protein bakteri, dan paling baik diberikan ketika bakteri sedang aktif membelah.
Beberapa bakteri telah diketahui resisten terhadap antibiotika aminoglikosida, misalnya Pseudomonas aeruginosa. Selain itu, genus Enterococci juga diketahui telah mengembangkan resistensi terhadap gentamisin. Risiko resistensi semakin bertambah dengan semakin banyaknya jumlah antibiotik yang digunakan, penggunaan ventilasi mekanik yang lama, serta terdapatnya infeksi saluran kencing.

Referensi:

Roch, M., Clair, P., Renzoni, A., Reverdy, M.-E., Dauwalder, O., Bes, M., dkk., 2014. Exposure of Staphylococcus aureus to Subinhibitory Concentrations of β-Lactam Antibiotics Induces Heterogeneous Vancomycin-Intermediate Staphylococcus aureus. Antimicrobial Agents and Chemotherapy, 58: 5306–5314.

Rossi, F., Diaz, L., Wollam, A., Panesso, D., Zhou, Y., Rincon, S., dkk., 2014. Transferable Vancomycin Resistance in a Community-Associated MRSA Lineage. New England Journal of Medicine, 370: 1524–1531.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *