Benarkah Obat Antiinflamasi Memicu Diabetes?

Obat anti-inflamasi sering digunakan dalam jangka panjang atau pendek untuk mengobati berbagai kondisi mulai dari alergi hingga radang sendi, namun benarkah obat-obatan ini menjadi pemicu diabetes?

Glukokortikoid adalah jenis obat anti-inflamasi yang sering digunakan untuk pengobatan berbagai kondisi, termasuk alergi, asma, dan kondisi rematik. Seperti halnya obat lain, glukokortikoid juga dapat memiliki beberapa efek samping. antara lain kekeringan dan perubahan warna kulit, sesak napas, dan masalah dengan tidur.  Bila digunakan pada dosis yang lebih tinggi, dapat terjadi depresi dan tekanan darah tinggi. Penelitian terbaru  dari Universitas Sapienza Roma di Italia dan Universitas Oxford di Inggris menunjukkan bahwa obat anti-inflamasi ini dapat memiliki konsekuensi jangka panjang bagi kesehatan.

Dalam sebuah presentasi poster di Konferensi Tahunan Masyarakat untuk Endokrinologi – yang tahun ini berlangsung di Brighton, Inggris – penulis penelitian Dr. Riccardo Pofi dan Prof. Jeremy Tomlinson telah menjelaskan bahwa glukokortikoid dapat meningkatkan risiko seseorang terkena diabetes. Pada penelitian ini, Dr. Pofi, Prof. Tomlinson, dan tim merekrut 16 peserta pria sehat. Untuk peserta ini, mereka memberikan dosis glukokortikoid (prednisolon) 10 atau 15 miligram selama 1 minggu. Dosis ini adalah dosis yang biasanya digunakan secara umum.

Pada akhir satu minggu pengobatan, para peneliti mengukur biomarker reguler, seperti kadar gula darah puasa dan berat badan, dan penanda metabolisme pada peserta. Mereka menemukan bahwa meskipun sebagian besar biomarker, termasuk kadar gula darah, tetap tidak terpengaruh oleh obat, namun ada dampak negatif pada mekanisme regulasi gula darah. Bila pengobatan dengan glukokortikoid berlangsung dalam jangka panjang, akan ada risiko diabetes. Peneliti berpendapat bahwa temuan saat ini menunjukkan perlunya menetapkan dosis obat antiinflamasi dengan sangat hati-hati, untuk memastikan bahwa manfaatnya lebih besar daripada risiko potensial, serta diperlukan penelitian lain yang lebih besar, lebih konklusif untuk mengkonfirmasi validitas temuan saat ini.

Referensi:

Pofi R, Bonaventura I, Othonos N, Marjot T, Moolla A, Isidori AM, Hodson L, Tomlinson JW. Glucocorticoid treatment is associated with dose-dependent effects in healthy male volunteers. InSociety for Endocrinology BES 2019 2019 Nov 6 (Vol. 65). BioScientifica.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *