Amankah Pemanis Buatan bagi Kesehatan?

Advertisement

Bagi orang yang membatasi asupan gula, pemanis buatan menjadi alternatif pengganti gula yang selama ini banyak digunakan. Namun apakah anda yakin bahwa pemanis buatan benar-benar aman untuk digunakan sehari-hari?

Pemanis buatan merupakan bahan tambahan pangan yang memberikan rasa manis seperti gula, namun dengan kandungan kalori yang lebih sedikit. Sebagian pemanis buatan diperoleh dari bahan alami, sementara sebagian lainnya diperoleh secara sintesis. Contoh pemanis buatan yang diperoleh dari bahan alami adalah xylitol dan sorbitol yang terdapat secara alami di buah beri, sayuran, dan jamur. Aspartam dan sakarin merupakan contoh pemanis buatan yang diproduksi secara sintetis. Berikut ini merupakan jenis pemanis buatan yang banyak digunakan:

Aspartam
Pemanis buatan yang ditemukan oleh James M Schlatter pada tahun 1965. Ditemukan secara tidak sengaja ketika peneliti ini sedang membuat obat anti ulser. Rasa manisnya 200 kali melebihi gula. Sejak ditemukan hingga kini, aspartam telah menjadi subjek penelitian keamanan pangan. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda mengenai profil keamanannya. Beberapa telaah artikel oleh sejawat (peer reviewed) dan organisasi pemerintah menyimpulkan bahwa aspartam aman dikonsumsi dalam batas tertentu.

Siklamat
Siklamat dilarang digunakan di Amerika Serikat oleh FDA pada tahun 1969 setelah adanya penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat risiko kanker kandung kemih oleh siklamat. Walaupun demikian banyak negara, termasuk Inggris, Kanada, dan Rusia, masih menganggap siklamat aman.

Sakarin
Sakarin merupakan pemanis buatan yang pertama kali disintesis oleh Remsen dan Fahlberg pada tahun 1879. Ketakutan perihal keamanan sakarin mengemuka pada tahun 1960 ketika terdapat sebuah penelitian yang menunjukkan risiko terkena kanker kandung kemih pada tikus yang diberi sakarin. Pada tahun 1977 Kanada melarang penggunaan sakarin, sementara Amerika Serikat masih menimbang-nimbang. Setelah diperjelas lagi oleh penelitian lainnya yang menunjukkan bahwa mekanisme terjadinya kanker kandung kemih oleh sakarin pada tikus tidak ditemukan pada manusia, maka Amerika Serikat secara resmi memperbolehkan penggunaan sakarin hingga kini. EPA telah mencabut sakarin dan garamnya dari daftar senyawa yang berbahaya bagi manusia.

Stevia
Stevia telah digunakan sejak lama di Amerika Selatan. Jepang telah menggunakannya sejak tahun 1970, kemudian diikuti oleh Amerika Serikat setelah melihat bahwa stevia tidak memiliki pengaruh merugikan bagi tubuh.

Sukralosa
Sukralosa merupakan gula terklorinasi, rasanya 600 kali lebih manis dari gula. Amerika Serikat memperbolehkan penggunaan sukralosa pada tahun 1998.

Selain itu terdapat pula pemanis buatan lainnya, misalnya inulin, isomalt, manitol, dulsin, dan glusin.

Risiko Penambahan Berat Badan dan Respon Insulin
Penelitian pada binatang percobaan menunjukkan adanya respon insulin terhadap rasa manis pada tikus, akan tetapi pada manusia responnya masih belum jelas. Sebuah penelitian tahun 2014 menunjukkan bahwa pemanis buatan meningkatkan risiko terjadinya penyakit metabolik, misalnya diabetes melitus. Peneliti ini menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan kadar glukosa darah pada tikus percobaan dan pada manusia oleh karena berubahnya flora normal usus. Tikus yang diberi asupan pemanis buatan (sakarin, sukralosa, dan aspartam) memiliki intoleransi glukosa yang lebih tinggi daripada tikus yang hanya diberi air putih dan tikus yang diberi gula. Dari fakta-fakta tersebut ungkin ada baiknya bila anda menggunakan pemanis buatan secara bijak.

Referensi:

Taylor Feehley and Cathryn R. Nagler (2014). “Artificial sweeteners induce glucose intolerance by altering the gut microbiota”. Nature (preview).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *